LANGKAH KREATIF MENUJU MEDIA FILM

SEKILAS TENTANG MEDIA FILM
Karya 2004 : MUHABBA PUTRA IKJ

Sejalan dengan perkembangan tekhnologi yang semakin pesat, kitapun harus mengikutinya dengan disertai kemampuan di bidangnya. Sehingga kita jangan sampai ketinggalan zaman di era globalisasi ini. Apalagi diri kita menjadi orang yang punya predikat “ GAPTEK ” alias Gagap Tekhnologi. Karena tekhnologi salah satu bagian dari unsur kebudayaan yang memberikan makna sebagai peradaban manusia di bumi ini.

Lalu bagaimana dengan kesenian yang juga merupakan unsur kebudayaan ? Ternyata kesenian dan tekhnologi punya jalinan yang kuat untuk menunjukkan fenomena kehidupan manusia yang lebih berarti. Dalam hal ini tiada pembahasan tentang seluk beluk kesenian yang secara luas. Meski saat ini yang sedang dihadapi kesenian berupa Seni Teater. Hanya saja menitik beratkan pada persoalan penuangan gagasan yang selama ini dalam bentuk media ekspresi pentas menuju ke media film. Pendekatan sebuah proses berkesenian mengarah pada penciptaan sebuah film di lingkungan sekolah.

Yang perlu dicermati adalah apakah dengan banyak hijrahnya orang-orang teater ke dunia film berarti film merupakan saingan yang menghambat pertumbuhan dunia teater ? Saya kira tidak. Sebab, bagaimanapun dunia teater memang berat keadaannya untuk dijadikan sebagai jalan hidup. Begitu lambat laun orang teater mulai berkeluarga dan mulai pusing soal nafkah, mereka akan hijrah ke mana saja yang memungkinkan. Kalau mereka hijrah ke film, itu lebih baik. Bidang pekerjaannya masih punya kaitan dengan bakatnya. Jadi, dalam hal ini, dunia film malahan berjasa dalam menyalurkan bakat para pengungsi itu. Hal ini banyak terjadi dikalangan seniman teater yang berada di kota industri perfilman. Akan tetapi jika kita tengok lebih cermat, ternyata hasil dari proses penciptaan sebuah filmnya mempunyai nilai seni yang tinggi. Sebagaimana film tersebut dikelolah oleh para seniman yang sineas dan bukan tekhnokrat yang jauh akan jiwa seninya.

Mari kita awali dengan pembahasan tekhnologi yang berupa antara lain ;

1. Audio ( suara )
2. Visual ( gambar )
3. Audio-Visual ( suara dan Gambar )

Kali ini pembahasan lebih mengarah pada Audio–Visual sebagai media komunikasi yang efektif. Dimana tidak ada yang lebih penting dalam pergaulan umat manusia di dunia ini dari pada komunikasi. Komunikasi tujuannya menyampaikan suatu pikiran atau pesan dari seorang kepada orang lain. Hubungan antara mereka itulah yang disebut dengan komunikasi. Penggunaan alat-alat audio-visual ini merupakan media yang efektif berfungsi sebagai ;

1. Pendidikan ( pengajaran )
2. Penerangan ( penyuluhan )
3. Hiburan

Yang termasuk golongan alat audio-visual adalah Film bersuara dan Televisi, karena kedua alat ini mengkombinasikan fungsi suara dan rupa dalam satu unit. Kedua alat ini dapat disebut alat-alat audio-visual murni.

Sejak pertama kali film diperkenalkan kepada masyarakat pada tahun 1895 oleh Lumiere Bersaudara di Paris, orang baru melihatnya sebagai suatu penemuan baru yang menakjubkan. Di atas layar polos orang dapat melihat gambar bergerak meyerupai keadaan yang sebenarnya. Meskipun pada waktu itu keadaan film masih serba sederhana dalam bentuk hitam putih, tanpa suara dan masa pemutarannya hanya beberapa menit saja, namun sudah cukup mengagumkan penonton pada saat itu. Beberapa tahun kemudian barulah perkembangan film mengalami evolusi. Dimana masa perubahannya pada keadaan yang lebih realistis dengan ditemukannya sistem suara. Penyempurnaan film terus menerus dilakukan, sehingga ditemukan warna dan dimensi yang menjadikan film lebih dekat pada keadaan yang sebenarnya.

Film merupakan salah satu media komunikasi yang pada mulanya fungsinya belum jelas. Karena ia baru merupakan suatu penemuan. Kemudian lambat laun dalam perkembangan dan penyempurnaan tekhnologinya, film mulai diberikan fungsi. Di Indonesia sudah dikenal Tri Fungsi film seperti yang diutarakan diatas pada alat-alat audio-visual.

Kira-kira seabad sudah perjalanan sejarah perfilman dunia. Nama-nama Eastman, Thomas Alpha Edison, Lumiere dan beberapa nama lain telah terpatri dalam ingatan sejarah sebagai pelopor-pelopor dalam membidani kelahiran media yang bernama film ini. Suatu hal yang tidak dapat kita ingkari adalah bahwa film lahir dari rekayasa tekhnologi. Perkembangan tekhnologi telah memacu pada dunia film yang lebih kompleks terutama karena sentuhan-sentuhan dari bidang-bidang lain termasuk kesenian. Sehingga dapat kita katagorikan dalam jenis-jenis film dari segi bentuk dan isinya yang biasa diproduksi untuk berbagai keperluan, antara lain ;

1. Film Dokumenter
2. Film Semi Dokumenter / Dokudrama
3. Film Pendek
4. Film Panjang
5. Profil Perusahaan
6. Iklan Televisi
7. Program Televisi
8. Video Klip

Untuk lebih jelasnya, bagaimana kita memproduksi sebuah film maka kita harus lebih dulu memikirkan jangkauan para penonton sebagai sasarannya. Karena hal ini akan menentukan pada proses pembuatan dengan pendekatan format Film atau Video. Lalu dimana letak perbedaan dari segi Film dan Video. Oleh karena itu, bisa kita lihat lebih rinci bentuk perbedaannya.

BERUPA FILM
Kelahiran Sekitar abad 19
Bahan Pita Seluloid
Kondisi Pita mudah terbakar
Tujuan Merekam gambar
Ukuran 8 mm, 16 mm, 35 mm,( lebar pita seluloid )
65 mm dan 70 mm( format 3 dimensi )
Hasil Image Gambar dengan kualitas bagus
Biaya Mahal = Rp 1.500.000,-
1 can film 16 mm (max 10 menit)
Playback Exposed film ke Rush Copy ( bth 1 hari proses )
Alat rekam Cine Camera
Alat tayang Proyektor dan Layar
Alat edit Editor Fujica & Splicer
Shooting Ratio 1 : 3 1 can 16 mm 10 menit : 27 can durasi 90 mnt
Aspect Ratio Bioskop
Amerika 1 : 1,85
Eropa 1 : 1,66

BERUPA VIDEO

Kelahiran Periode thn 1950 an
Bahan Pita Magnetik
Kondisi Ada pelindung pita
Tujuan Merekam gambar & suara
Ukuran U Matic, Betacam SP, Digital Betacam, Betamax, VHS,
S-VHS, Hi8, Mini DV, DV, DVCAM (Sony) & DVCPRO (Panasonic), HDTV ( Jepang )
Hasil Menurut perkembangan nampak mendekati kualitas gambar film
Biaya Murah = Rp 150.000,- Betacam SP (max 30 menit)
Playback Langsung dapat dilihat hasil shooting
Alat rekam Camera Recorder
Alat tayang Televisi
Alat edit Analog & Digital ( AVID )
Shooting Ratio 1 : 3 Betacam SP 30 menit : 9 kaset durasi 90 menit
Aspect Ratio Televisi 1 : 1,33

Menjelang periode 1980 an mengalami ‘kawin silang’ antara format Film dengan Video. Dimana kualitasnya sangat bagus dengan proses mudah dan biaya terjangkau. Semua ini dilakukan dalam cara mengkombinasikan untuk keperluan Shooting, Editing dan Penayangan.

Sekarang tinggal bagaimana kita mensikapi dalam proses pembuatan film tersebut sehubungan dengan proses belajar mengajar. Sebagaimana para remaja sekolah punya hak untuk mengkomunikasikan gagasan pikiran mereka melalui media film. Tentunya semua proses itu didukung oleh ahli tekhnokrat (sineas) yang punya citra rasa seni. Dimana kerja kolektif yang sangat mumpuni akan dapat menghasilkan film yang berbobot sesuai dengan fungsinya.

Ada tiga langkah persiapan untuk membuat film yaitu sbb. :

1. PRA PRODUKSI
2. PRODUKSI
3. PASCA PRODUKSI

Koleksi : teater_gress@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: