KUMPULAN PUISI CHAIRIL ANWAR

SIAP SEDIA
Kepada Angkatanku

Tanganmu nanti tegang kaku
Jantungmu nanti berdebar berhenti
Tubuhmu nanti mengeras batu
Tapi kami sederap mengganti
Terus memahat ini Tugu

Matamu nanti kaca saja
Mulutmu nanti habis bicara
Darahmu nanti mengalir berhenti
Tapi kami sederap mengganti
Terus berdaya ke Masyarakat Jaya

Suaramu nanti diam ditekan
Namamu nanti terbang hilang
Langkahmu nanti enggan ke depan
Tapi kami sederap mengganti
Bersatu maju, ke Kemenangan
Darah kami panas selama
Badan kami tertempa baja
Jiwa kami gagah perkasa
Kami akan mewarna di angkasa
Kami pembawa ke Bahgia Nyata

Kawan, kawan
Menepis segar angin terasa
Lalu menderu menyapu awan
Terus menembus surya cahaya
Memencar pencar ke penjuru segala
Riang menggelombang sawah dan hutan

Segala menyala-nyala !
Segala menyala-nyala !

Kawan, kawan
Dan kita bangkit dengan kesadaran
Mencucuk menerang hingga belulang
Kawan’ kawan
Kita mengayun pedang ke Dunia Terang.

____________________________________________________________

AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

___________________________________________________________

CATETAN TH. 1946

Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,
Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai.
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut.
Kita – anjing diburu – hanya melihat sebahagian dari
sandiwara sekarang,
Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau
di ranjang,
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu,
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.
Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu.
Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu,
Kita memburu arti atau diserahkan pada anak lahir
sempat,
Karena itu jangan mengerdip; tatap dan penamu asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering se-
dikit mau basah !

____________________________________________________________

SENJA DI PELABUHAN KECIL
Buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tidak berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba di ujung, dan sekalian selamat jalan
dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap

Koleksi : teater_gress@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: