FENOMENA

NASKAH DRAMA ANAK-ANAK

Karya 2002 : Muhabba Putra

PARA PEMAIN
Seseorang
Pembawa Koran
Pemimpin A
Pemimpin B
Anggota A-1
Anggota A-2
Anggota B-1
Anggota B-2
Pembaca Puisi
Penjual Koran
Pencerita
Ibu Fatimah
Hasan
Jubah Putih
Majikan
Masyarakat

___________________________________________________________

ADEGAN PERTAMA

Menggambarkan keadaan Masyarakat. Dimana satu persatu bergerak menyebar memenuhi ruangan/panggung dengan suara Kalimatullah, keadaan semakin cepat kemudian berhenti karena muncul suara teriakan histeris.

SESEORANG
Aaaaaaakkkkhhhhhh

Semua jadi mematung lalu lemas jatuh ke lantai. Kemudian tangan-tangan melambai dan menepuk ke lantai. Suara tepukan itu semakin lama menjadi keras sehingga seseorang trauma dengan bunyi itu dan teriaklah

SESEORANG
Diiaaaaaaaaammmm

Dia bangkit dan melihat ada orang yang akan datang dengan membawa koran yang menutup wajahnya.

SESEORANG
Liiiihhhhaaaaaaaatttttt

Semua bergerak bangkit dan merespon kearah orang yang datang dari arah depan dan masyarakat membentuk formasi/komposisi panggung. Ketika mendekat ke tengah maka masyarakat menyebar.

___________________________________________________________

ADEGAN KEDUA

Salah seorang membawa koran tepat di tengah belakang dan yang lainnya tetap memperhatikannya. Kemudian Pemimpin A mengambil selembar koran dan dibacanya dengan terbalik pada sisi panggung kiri yang diikuti oleh kelompok A. Begitu juga Pemimpin B mengambil selembar koran yang bolong tengahnya dan dibaca pada sisi panggung kanan yang diikuti kelompok B. Sedangkan kelomp[ok C tetap memperhatikan Pembawa Koran di posisi tengah.

____________________________________________________________

ADEGAN KETIGA

PEMIMPIN A
(tertawa setelah baca koran) Haaa…Haaa…Haaa…

KOOR KELOMPOK A
(ikut tertawa juga karena Pemimpin A) Haaa…Haaa…Haaa…

ANGGOTA A-1
Huss…Huss…kok tertawa sih. (kepada Pemimpin A) Kenapa tertawa ?

PEMIMPIN A
(tidak menjawab hanya geleng-geleng kepala pertanda tidak tahu penyebabnya kenapa tertawa)

KOOR KELOMPOK A
(mentertawai Pemimpin A) Haaa…Haaa…Haaa…

ANGGOTA A-1
Diiiaaaaammmmmmm

____________________________________________________________

ADEGAN KEEMPAT

PEMIMPIN B
(menangis setelah baca koran) Heee… Huuu….

KOOR KELOMPOK B
(ikut menangis juga karena Pemimpin B) Heee… Huuu…

ANGGOTA B-1
Huss…Huss…kok nangis sih. (kepada Pemimpin B) Kenapa nangis ?

PEMIMPIN B
(tidak menjawab hanya geleng-geleng kepala pertanda tidak tahu penyebabnya kenapa menangis)

KOOR KELOMPOK B
(menangisi Pemimpin B) Huuu… Heee… Huuu…

ANGGOTA B-1
Diiiaaammmmmmm
____________________________________________________________

ADEGAN KELIMA

Pemimpin C atau Pembawa Koran yang sedang menutupi wajahnya dengan koran tersebut merasa kaget dan muncullah wajahnya ke permukaan.

PEMBAWA KORAN
(kepada Penonton) Wah, gawat dong. (kearah kelompok A) Tertawa tapi tidak tahu apa yang ditertawakan. (kearah Kelompok B) Menangis tapi tidak mengerti apa yang ditangisi. (kearah penonton) Aneh ya !

ANGGOTA A-2
(sambil tertawa terbahak-bahak) Aku tahu apa yang dia tertawakan

KOOR KELOMPOK A
Apaaaannn ?

ANGGOTA A-2
(sambil tertawa) Ya…… koran ini

KOOR KELOMPOK A
Memangnya kenapa dengan koran ini ?

ANGGOTA A-2
(sambil tertawa) Lihaaattt ! Bacanya terbalik. (Pemimpin A sadar dan membalikkan korannya sambil tertawa simpul)

KOOR KELOMPOK A
(tertawa terbahak-bahak)

PEMBAWA KORAN
Hey… sudah… diam dong ! (kearah Kelompok A) Kebodohan orang kok ditertawakan sih. Malu ah !

ANGGOTA B-2
(sambil menangis) Aku juga tahu apa yang dia tangisi.

KOOR KELOMPOK B
Apaaaannnn ?

ANGGOTA B-2
(sambil menangis) Ya… koran ini

KOOR KELOMPOK B
Memangnya kenapa dengan koran ini ?

ANGGOTA B-2
(sambil menangis) Lihaatt ! Korannya bolong. (Pemimpin B sadar dan melongok pada koran yang bolong tersebut)
KOOR KELOMPOK B
(menangis meronta-ronta)

PEMBAWA KORAN
Aduh… sudah… diam dong ! (kearah Kelompok B) Keprihatinan orang tidak perlu ditangisi terus. Cengeng ah ! Sekarang semuanya perhatian. Ada berita bagus. Sebentar aku bacakan dulu ya. (baca koran) Berita tentang kelahiran manusia. Kita semua ini dilahirkan oleh seorang ibu.

_____________________________________________________________

ADEGAN KEENAM

Pembacaan puisi oleh tujuh orang dari masing-masing kelompok A & B dua orang dan kelompok C tiga orang. Mereka berdiri membaca judul puisi kemudian bergerak menyatu ke tengah dengan posisi sejajar. Dan satu orang yang mewakili sosok seorang ibu.

“ IBUNDA TERCINTA “

Perempuan tua itu senantiasa bernama :
duka derita
dan senyum yang abadi
tertulis dan terbaca jelas kata-kata puisi
dari ujung rambut sampai telapak kakinya.

Perempuan tua itu senantiasa bernama :
korban
terima kasih
restu
dan ampunan
dengan tulus setia melahirkan
berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia.

Perempuan tua itu senantiasa bernama :
cinta kasih sayang
tiga patah kata purba
diatas pundaknya setiap anak tegak berdiri
menjangkau bintang-bintang dengan hatinya dan janjinya.

____________________________________________________________

ADEGAN KETUJUH

PENJUAL KORAN
Wah… hebat ya… pinter-pinter baca puisinya. Tepuk tangan dong. Nah gitu ! Koran… koran… koran… koran… siapa yang mau beli ? Peristiwa seru. Beritanya hangat. Koran… koran… Jangan sampai ketinggalan informasi. Ayo baca koran terbit hari ini.

PENCERITA
Boleh dong korannya. (sambil memperhatikan korannya) Wah … bener-bener seru dan hangat nih. Ini baru namanya berita. Jangan gosip melulu. (masyarakat semuanya ikut memperhatikan sambnil tiduran). Eehhh… kok malah ikutan sih. (bangun) Aahhh… Ganggu aja orang lagi asyik baca koran. (balik badan kemudian tidur lagi dengan posisi terlentang sambil angkat kaki) Nggak ada kerjaan apa ? (masyarakat kecewa “ Huuu… “) Dibilangin malah ngledek ! (sambil bangun)

MASYARAKAT
Ada berita apaan sih di koran itu ?

PENCERITA
Mau tahu aja. Ada berita menarik. Berita tentang seorang wanita.

MASYARAKAT
(koor) Tentang INUL ya !

PENCERITA
Kalian ini tahunya cuma Inal Inul Inal Inul (sambil goyang). Memangnya berita murahan kali. Benci aku ! Ayo sudah sana, bubar semuanya (sambil gaya banci)
(masyarakat bubar dan membentuk setengah lingkaran yang ditengahnya si Pencerita akan bercerita)

PENCERITA
Begini ceritanya. Di sebuah desa terpencil, hiduplah seorang Janda bernama Fatimah dengan anak laki-laki yang bernama Hasan dengan tubuhnya yang cacat. Pada suatu hari, Ibunya yang janda itu selesai bekerja pada majikannya. Sebelum pulang, dia dipanggil oleh majikan lalu berkata

MAJIKAN
(sambil beri uang) Ini upahmu untuk hari ini. Besok, jangan lupa datang lebih awal

IBU FATIMAH
Terima kasih Nyonya

PENCERITA
Sementara itu Hasan sedang menunggu ibunya pulang kerja dengan menahan rasa lapar. Dikejauhan, nampaklah ibunya dan segeralah Hasan memanggilnya

HASAN
Ibu… Ibu… Ibu…

IBU
Anakku sayang, Hasan ! Ada apa nak ? Kamu lapar ya ! Sebentar ya, ibu mau masak dulu dan nanti kita makan bersama-sama ya

HASAN
Tapi jangan lama-lama ya, bu.
PENCERITA
Lalu ibunya masuk ke dapur untuk memasak tapi tanpa sepengetahuan ibunya, Hasan mengikuti dari belakang. Ketika itu saat ibunya memasak sambil berdoa

IBU
Ya Allah ! Kenapa kau jadikan anakku satu-satunya ini dalam keadaan cacat tubuhnya. Sehingga aku serepot ini mengurusnya. Tapi sekiranya jika Engkau berkehendak, bantulah kami meringankan beban hidup ini yaa… Allah !

PENCERITA
Tanpa disadari, anaknya telah menguping perkataan ibunya sejak tadi. Sehingga ia berjanji untuk bekerja meskipun tubuhnya cacat

HASAN
Aku harus membantu ibuku

PENCERITA
Keesokan harinya, dengan segala persiapan. Hasan berangkat mencari pekerjaan. Tapi di tengah perjalanan, Hasan istirahat untuk melepas lelah., Tiba-tiba ada seorang Jubah Putih datang menghampirinya

JUBAH PUTIH
Mulya sekali niat baik anak itu. Aku harus membantunya. (mendekati) Hasan !

HASAN
(kaget) Sss… ssi… siapa kamu ?

JUBAH PUTIH
Aku adalah utusan Allah yang turun dari langit

HASAN
Mau apa kamu ?

JUBAH PUTIH
Aku ingin membantu kamu dan ibumu

HASAN
Tidak. Aku ingin membantu ibuku sendiri

JUBAH PUTIH
Dengan melalui aku, kamu tetap bisa membantu ibumu. Terimalah ini, sekantung uang emas dariku. Jadilah anak yang baik dan jangan durhaka kepada ibumu.

HASAN
Terima kasih dan aku selalu ingat pesanmu.

PENCERITA
Di sepanjang jalan Hasan pulang dengan perasaan senang dan gembira untuk menemui ibunya.

HASAN
Ibu… Ibu… Ibu…

IBU FATIMAH
Ada apa anakku ? Kamu dari mana saja, Hasan ?

HASAN
Terima ini… ayo terima saja, bu !

IBU FATIMAH
Apa ini ?

HASAN
Sekantung uang emas, bu !
IBU FATIMAH
Dari mana ini kamu dapatkan ? Apa kamu mencuri ?

HASAN
Tidak, bu. Ini semua adalah pemberian dari seseorang yang memakai jubah putih

IBU FATIMAH
Maksudmu… Jubah Putih itu siapa ?

HASAN
Katanya, dia utusan Allah yang turun dari langit. Ketika itu aku sedang dalam perjalanan mencari pekerjaan, bu.

IBU FATIMAH
Syukurlah, ini adalah barokah dari Allah Yang Maha Kuasa. Hasan, meskipun kamu cacat, aku selalu sayang sama kamu. Selama ini kamu sangat berbakti pada orangtuamu. Terima kasih Allah. (mengajak) Ayo, nak ! kita masuk ke dalam.

PENCERITA
Nah… begitulah ceritanya. Kisah seorang Janda dengan anaknya yang cacat. Mereka sekarang hidup bahagia selama-lamanya.

____________________________________________________________

Pementasan drama ini diakhiri dengan nyanyi bersama. Judul Lagu “ Mari Dengar Nasehat “ karya NADAMURNI II

SOLO
Wahai kawan-kawan mari dengar nasehat
Sebagai pedoman untuk selamat
Wahai kawan-kawan mari dengar nasehat
Sebagai pedoman untuk selamat
Dari adzab dunia akherat
Supaya hidup bertambah berkat

KOOR
Wahai kawan-kawan mari dengar nasehat
Sebagai pedoman untuk selamat
Wahai kawan-kawan mari dengar nasehat
Sebagai pedoman untuk selamat
Dari adzab dunia akherat
Supaya hidup bertambah berkat

SOLO
Marilah sembahyang lima waktu
Menyembah Allah Tuhan yang satu
Marilah sembahyang lima waktu
Menyembah Allah Tuhan yang satu
Siapa mendirikannya selalu
Dibalas pahala sudahlah tentu

KOOR
Wahai kawan-kawan mari dengar nasehat
Sebagai pedoman untuk selamat
Wahai kawan-kawan mari dengar nasehat
Sebagai pedoman untuk selamat
Dari adzab dunia akherat
Supaya hidup bertambah berkat

SOLO
Marilah hormati ibu bapak
Karna itu adab akhlak mulia
Marilah hormati ibu bapak
Karna itu adab akhlak mulia
Tuntutan hubungan yang Allah Ridlo
Supaya hidup saling bermesra

KOOR
Wahai kawan-kawan mari dengar nasehat
Sebagai pedoman untuk selamat
Wahai kawan-kawan mari dengar nasehat
Sebagai pedoman untuk selamat
Dari adzab dunia akherat
Supaya hidup bertambah berkat

SOLO
Ingatkan selalu jasa gurumu
Yang terus mendidik tanpa jemu
Ingatkan selalu jasa gurumu
Yang terus mendidik tanpa jemu
Doakan untuk dirinya selalu
Agar dirimu dalam ridhonya selalu

KOOR
Wahai kawan-kawan mari dengar nasehat
Sebagai pedoman untuk selamat
Wahai kawan-kawan mari dengar nasehat
Sebagai pedoman untuk selamat
Dari adzab dunia akherat
Supaya hidup bertambah berkat

KOOR
Wahai kawan-kawan mari dengar nasehat
Sebagai pedoman untuk selamat
Wahai kawan-kawan mari dengar nasehat
Sebagai pedoman untuk selamat
Dari adzab dunia akherat
Supaya hidup bertambah berkat
Supaya hidup bertambah berkat

TAMAT

Koleksi : teater_gress@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: