CALON SEORANG AKTOR

BUKU PEGANGAN AKTOR

Karya : MUHABBA PUTRA IKJ
Jakarta, 11 Juni 1992

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I PENGENALAN
1. Pengertian Istilah 1
2. Sejarah Pertumbuhan 2
3. Drama Sebagai Karya Seni 2
4. Drama Sebagai Ilmu 3
5. Hubungan Drama dengan Unsur – Unsur Kesenian Lain 4
6. Jenis Drama Menurut Isi Lakonnya 5
7. Unsur – Unsur Lakon Drama 6

BAB II SENI BERPERAN
1. Masalah Permainan 9
2. Pokok Dasar Bermain Drama 10
3. Pemeranan dan Perwatakan 13

BAB III CALON AKTOR
1. Aktor Yang Baik 16
2. Yang Harus Dimiliki Oleh Setiap Aktor 16
3. Tugas Aktor 17
4. Action Dan Acting 17
5. Persiapan Latihan Dasar 18

BAB IV MEDIA EKSPRESI AKTOR
1. Media Pentas 24
2. Media Televisi 26
3. Media Film 26
4. Media Radio 28

DAFTAR KATA 29
DAFTAR BACAAN iii
BIODATA PENYUSUN iv

____________________________________________________________

KATA PENGANTAR

Akhir – akhir ini seni drama mengalami perkembangan yang menggembirakan di tanah air kita. Ditengah masyarakat banyak berdiri perkumpulan drama, sementara di sekolah – sekolah serta perguruan tinggi para siswa dan mahasiswa memanggungkan drama pada waktu – waktu tertentu. Belum lagi terhitung yang di suguhkan sinetron televisi yang kini semakin pesat saja pekembangannya.
Sejauh mana pengaruh drama terhadap hidup seseorang hanya dapat diketahui bila secara langsung orang melibatkan diri kedalamnya. Seorang pemain akan merasa puas yang sungguh – sungguh apabila permainannya berhasil dan mendapat sambutan hangat dari publik. Sebaliknya jika jelek akan pula memperoleh reaksi langsung dari penonton. Jelas hal ini mempunyai dampak dalam hidupnya yang real di luar panggung. Dari kaitan ini antara lain dapat kita telusuri kekuatan drama sebagai salah satu komponen pembangunan kepribadian yang kukuh.
Dengan demikian dari hadirnya sebuah pengantar persiapan seorang calon aktor ini akan membantu memberikan penerangan bagi mereka yang ingin menjadi seorang aktor – aktris yan dapat dibanggakan masyarakat. Perlu diketahuui bahwa hanya disajikan dalam bentuk teori sebagai dasar membentuk diri seorang aktor dan sangat dianjurkan memperbanyak latihan – latihan yang kontinue.
Diharapkan semoga bermanfaat bagi kalangan calon aktor yang memiliki buku ini dan selamat berjuang………
_____________________________________________________________

BAB I
PENGENALAN

1. PENGERTIAN ISTILAH
Sebelum kita membicarakan masalah seni berperan kiranya perlu diketahui lebih dahulu asal mula pengertian istilah yang selama ini kita sudah mengenalnya. Dengan demikian kita tidak hanya cukup mengenal istilah saja, akan tetapi mengenalnya lebih dekat. Apa yang dimaksud sebenarnya ?

Istilah Drama
Berdasarkan etimologis isitilah “drama” berasal dari bahasa Yunani dengan kata sebagai berikut :
– “dram” yang berarti “gerak”
– “dramaoi” yang berarti “menirukan”
Istilah drama ini kemudian tersebar luas menjadi istilah internasional yang maksudnya adalah “suatu cerita/karangan yang dipertunjukkan di atas pentas oleh para pelaku dengan perbuatan-perbuatan”. Zaman penjajahan Belanda di Indonesia istilah drama itu diganti dengan istilah “tonil” (bahasa Belanda, toneel = pertunjukkan) kemudian sebagai penganti istilah “tonil” digunakan istilah “sandiwara” yang dicipta oleh PKG Mangkuningrat VII. Sandiwara ini berasal dari kata sandi = rahasia dan wara = warah (bahasa Jawa) atau pengajaran. Jadi sandiwara berarti suatu pengajaran yang disampaikan secara samar-samar (rahasia). Menurut Ki Hajar Dewantara “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang”. Istilah sandiwara ini terus digunakan sampai pada zaman Jepang. Dan akhirnya pada zaman Merdeka sejak Proklamasi Kemerdekaan negara kita dipopulerkan kembali penggunaan istilah “drama” yang pada umumnya di beri arti : perbuatan atau gerak.

Catatan : Perkembangan Istilah :
– Drama —– Tonil —— Sandiwara —— Drama
– Drama = tonil = Sandiwara

Istilah Teater
Berdasarkan etimologis “teater” berasal dari bahasa Yunani dengan kata “Theatron” yang berarti Pusat Upacara persembahan yang terletak di tengah-tengah arena. Menurut perkembangan zaman akhirnya arti istilah theatron banyak mengalami perubahaan sebagai berikut :
Jaman Yunani : Pusat upacara persembahan (pusat arena)
Jaman Romawi : Pusat gelanggang pertunjukkan (arena atau gelanggang pertarungan)
Jaman Modern/ : – Arena pusat dari segala pertunjukkan.
Masa kini – Panggung pusat pertunjukkan (didalam gedung)
– Gedung pertunjukkan
– Tempat untuk mementaskan drama
– Tempat untuk pemutaran film dan sebagainya.
Teater dalam arti luas adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Sedangkan dalam arti sempit yaitu drama, kisah hidup dari kehidupan manusia yang diceritakan diatas pentas, disaksikan oleh orang banyak dengan percakapan, gerak dan laku, dengan atau tanpa dekorasi di dasarkan pada naskah yang tertulis dengan atau tanpa musik nyanyian atau tarian.
Dari istilah drama dan teater adalah drama merupakan bagian dari kehidupan teater. Sehingga teater menyangkut lebih luas dari pada drama.

*************************

2. SEJARAH PERTUMBUHAN
Drama ini sebetulnya sudah ada sejak ratusan tahun, bahkan ribuan sebelum masehi. Tapi tahun yang dapat dicatat dan bisa dipertanggungjawabkan ialah sekitar tahun 490 sM. Sedangkan lakon drama yang paling tertua di tulis adalah yang berjudul The Suppliant, suatu lakon yang berisikan persembahan untuk memohon pada dewa-dewa. Penulisnya Aeschylus (525 – 456). Pada mulanya drama Yunani Kuno ini berasal dari Dythiramb, suatu bentuk nyanyian pujaan kuno yang dipertunjukkan untuk menyembah dewa Dionysus, yang digambarkan dalam bentuk patung berhala. Kemudian pada abad ke enam sM, Thespis menambahkan seorang pemain sebagai pimpinan di sampingnya narator/sang cerita. Abad kelima oleh Aeschylus ditambahkan lagi seorang pemain hingga pertumbuhan ini menyangkut tentang tempat untuk bermain drama.
Bagaimana dengan sejarah terbentuknya drama di tanah air kita ini ?
Kejadiannya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Barat, tumbuhnya drama di tanah air kita juga dari sebuah upacara yang bersifat keagaaman (ritus). Tapi sifatnya jauh lebih puitis (indah dan lembut) dibanding dengan di barat. Demikian juga bersifat untuk adat istiadat kaum etnik dan berakhir dalam bentuk pertunjukkan yang bertujuan untuk keperluan penonton.

***************************

3. DRAMA SEBAGAI KARYA SENI
Sebelum kita menelaah lebih lanjut tentang drama sebagai seni, kita harus mengetahui lebih dahulu tentang seni itu sendiri. Seni adalah segala sesuatu yang indah. Keindahan yang menimbulkan rasa senang orang lain yang melihat mendengar dan atau merasakannya. Kesenian berarti ciptaan keindahaan atau sesuatu yang indah. Sifat-sifat drama sebagai seni antara lain dapat dipandang dari beberapa segi bahwa drama ialah :
a. Satu-satunya seni yang paling kompleks.
Sebab disana ikut pula terlibat berbagai seniman, aktor, pengarang, pemusik, pelukis, busanawan, koreografer dan sebagainya.

b. Satu-satunya seni yang paling obyektif.
Dalam arti bahwa disana kedua pengalaman hidup manusia antara yang lahiriah dan batiniah, sama-sama diusung lewat kata-kata dan perbuatan serta disaksikan secara berbareng oleh penonton atau publik.

c. Seni yang paling kuat
Sebab didalamnya para penonton, publik, menjaga suatu peristiwa dari segi kehidupan yang kemudian ditafsirkan antara pengalaman hidup masa silam (kemarin) dengan kehidupan yang sedang dihayati (sekarang).

d. Merupakan titik pertemuan dari segala aneka ragaman seni dan ilmu, maka drama merupakan satu-satunya seni yang mempunyai organisasi kerjasama yang baik antara seni yang satu dengan seni lainnya untuk membentuk satuan kerjasama yang utuh.

e. Drama adalah seni, maka sejauh itu ia memiliki sifat-sifat yang berhubungan dengan persyaratan-persyaratan obyektif dari kaidah estetika (keindahan).

*********************

4. DRAMA SEBAGAI ILMU
Pembatasan yang paling utama dalam semua bentuk seni bahwa seni ini tanpa bisa ditawar lagi haruslah dicapai oleh seniman dengan suatu pengorbanan yang cukup tinggi.
Menceburkan diri dalam dunia seni tanpa suatu pengorbanan dan perjuangan yang tanpa mengenal lelah, maka perbuatan itu akan sia-sia saja. Pembatasan tentang pengorbanan, perjuangan tanpa mengenal lelah ini, adalah mutlak. Sebab drama bukan saja hanya merupakan suatu seni tapi juga ilmu.

Karena itu untuk menceburkan diri dalam dunia drama ada beberapa persyaratan yang mutlak juga bagi setiap aktor atau personil yang berkecimpung dalam drama yang ingin menjadi seniman drama :
a. Dituntutnya pengetahuan yang sangat mendasar dan mendalam terhadap semua bidang kebudayaan, terutama seni seni yang merupakan bagian-bagian bangunan mutlak dari teater drama seperti halnya sastra, musik, seni rupa, tari, vokal dan sebagainya.

b. Dituntutnya paling tidak sedikitnya pengetahuan yang mendasar dan mendalam terhadap ilmu yang merupakan bagian bangunan mutlak dari drama seperti tentang psikologi, filsafat, sosiologi, antropologi dan sejarah.

c. Adanya intensitas (perasaan kehebatan) diri dalam menghadapi segala masalah yang berada di lingkungannya, kreatif, dapat menikmati-menghayati, cendekia.

d. Adanya perasaan bangga pada drama dan berani berkorban untuknya. Kukuh atas perasaan itu dan bergumul dalam dan beserta nafasnya. Dengan segala kesetiaan dalam menghadapi segala konsekuensinya.

e. Karena drama adalah seni yang juga sekaligus ilmu, maka mau tak mau setiap aktor harus mempunyai pengetahuan-pengetahuan tadi, terutama sekali dalam kaitannya dengan akting atau seni berperan.

f. Disamping itu pula kita harus memahami dan menyadari bahwa ilmu selalu akan berkembang. Oleh karena itu diperlukan juga intelegensi (kecerdasan) yang cukup tinggi, yang ditempa terus menerus tanpa mengenal lelah terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

*******************************

5. HUBUNGAN DRAMA DENGAN UNSUR – UNSUR KESENIAN LAIN

Drama Dengan Puisi
Tidaklah dapat dipungkiri ada beberapa cabang seni yang telah tergantung demikian rupa sehingga sangat sulit sekali untuk saling memisahkan diri. Contoh yang paling jelas umpanya saja sajak dengan musik.
Dalam bidang musik kita mengenal adanya musik vokal dan musik instrumental. Begitu pula, tidaklah setiap sajak enak untuk dideklamasikan atau juga dilagukan. Begitu pula dalam halnya lagu atau musik, tidak semuanya bisa diikuti oleh sajak.
Ini tak jauh berbeda dengan hubungannya antara sajak atau puisi dengan drama. Tidak semua drama bisa diikuti oleh sajak, dan tidak semua sajak bisa didramakan.

Drama Dengan Cerita Pendek atau Novel
Drama bila kita perbandingkan dengan cerpen, novel, roman ada perbedaannya yang sangat jelas yaitu bentuknya. Dimana drama ini sebagian besar adalah terdiri dari dialog (wawankata-percakapan). Tapi kesemuanya mempunyai dasar yang sama yaitu cerita yang diangkatnya dari kehidupan. Dimana mereka mempunyai unsur-unsur yang sama ; Plot, karakter, dialog, setting dan interprestasi kehidupan.
Cerpen, novel atau roman dapat pula dipentaskan bila karya sastra tersebut diubah dulu menjadi karya sastra yang berbentuk drama (naskah drama) atau dalam film (skenario).

Drama dengan Seni Musik
Hubungan drama dengan musik dengan jelas dapat kita lihat pada drama radio. Musik memegang peranan yang sangat penting sekali, ia sanggup memberikan gambaran adegan imajinasi tentang suasana yang sedang berlangsung pada segmen-segmen tertentu dari lakon yang sedang disajikan. Suara angin yang menderu-deru membawa imajinasi kita pada badai yang mengamuk. Dimana itu semua sebetulnya hanyalah suatu tipuan belaka yang ditimbulkan oleh alat-alat musik atau banda lain.

Drama dengan Seni Rupa
Mengenai seni lukis dalam hubungannya dengan drama cukup jelas bisa kita lihat dalam tata pentas (dekor). Pada drama yang bersifat kenyataan, faktor alam sering kali mereka manfaatkan untuk dekor pembantu. Bahkan pada beberapa tempat pertunjukkan drama kita saksikan faktor-faktor alam di jadikan sebagai latar belakang yang tetap untuk pementasan.

Drama dengan Seni Tari
Hubungan drama dengan seni tari tidak bisa kita diharap memungkirinya lagi, cukup banyak kita lihat. Terutama sekali pada drama-drama yang memang titik beratnya ditumpahkan pada gerak-gerak tari seperti halnya sendratari (seni drama dan tari) dan sebagainya.

Drama dengan Seni Suara
Yang dimaksud dengan suara adalah bunyi yang berasal dari makhluk hidup manusia. Ia merupakan medium manusia untuk mengekspresikan bahasa dalam komunikasinya dengan sesamanya. Suara ini dapat menghidupkan bahasa dan juga sebaliknya. Suara ini juga dapat menunjukkan suasana hati seseorang dalam keadaan marah, susah, riang dan sabagainya.
Masih banyak lagi hubungan drama dengan seni lainnya misalnya tata rias, tata busana, tata lampu dan artistik. Jadi pengertian diatas yang telah dibicarakan maka drama merupakan ibu dari seni (mother of arts). Karena di dalam kehidupan drama mencakup keseluruhan dari bidang seni-seni lainnya yang saling mendukung.

********************************

6. JENIS DRAMA MENURUT ISI LAKONNYA.

a. Tragedi yaitu drama penuh dengan kesediaan, kemalangan. Hal ini disebabkan pelaku utama dari awal cerita sampai akhir pertunjukkan senantiasa kandas dalam melawan nasibnya yang buruk. Tragedi berasal dari bahasa Yunani yakni kata “tragos” artinya mengerikan, menyedihkan.

b. Komedi yaitu drama penggeli hati. Dimana isinya penuh dengan sindiran atau kecaman terhadap orang. Suatu keadaan pelaku yang dilebih-lebihkan. Bahannya banyak diambil dari kejadiaan yang terdapat dalam masyarakat sendiri dan sering berakhir kegembiraan atau tanda tanya.
Komedi berasal dari bahasa Yunani yaitu kata “comos” yang berarti gembira atau komedi.

c. Tragedi dan komedi yaitu drama yang penuh dengan kesedihan, tetapi juga hal-hal yang menggembirakan atau menggelikan hati.

d. Opera yaitu drama yang berisikan nyanyian dan musik pada sebagaian besar penampilannya. Nyanyian digunakan sebagai dialog. Kata opera yang diambil dari bahasa Yunani berarti perbuatan. Jenis opera :
– Drama Opera Seria (cerita sedih)
– Drama Opera Buffo (cerita lucu)
– Drama Opera Komik (lelucon, tidak dinyanyikan)

e. Operette yaitu drama jenis opera tapi yang lebih pendek.

f. Tableau yaitu drama tanpa kata-kata dari sipelaku, mirip pantomime.

g. Dagelan yaitu suatu pementasan cerita yang sudah dipenuhi unsur-unsur lawakan/badutan.

h. Drama mini kata yaitu drama yang pada saat dipentaskannya boleh dikatakan hampir tidak menggunakan dialog sama sekali. Caranya dengan jalan improvisasi-improvisasi saja dengan gerak-gerak teaterikal yang tuntas.

i. Sendratari yaitu seni drama tari, dalam penggabungan drama dan tari pada penyajiannya.

j. Fragmen yaitu suatu nukilan atau cuplikan sebuah drama. Hanya memberikan konflik yang klimaks.

***************************

7. UNSUR-UNSUR LAKON DRAMA.
Dalam suatu lakon drama (modern) terdapat unsur-unsur pokok yang perlu diketahui karena ia merupakan inti yang fundamental dalam penyajian suatu lakon drama. Unsur yang paling pokok dalam seni drama ada empat : lakon, pemain, tempat/media ekspresi dan penonton. Dalam suatu drama yang paling utama adalah lakon. Lakon dalam drama plot, karakterisasi, dialog. Penempatan ruang dan waktu, dan penafsiran hidup (interprestasi). Dan kelima unsur-unsur ini dua diantaranya merupakan unsur pokok yang istimewa ; plot dan karakterisasi. Dimana dua unsur tersebut haruslah saling mendukung satu sama lain, karena saling membutuhkan. Dan dimana karakter dan plot dalam drama ini diwujudkan dalam bentuk : laku dan dialog.

a. Plot, lakon drama atau perjalanan cerita.
Plot dalam suatu drama harus berkembang secara bertingkat-tingkat, sampai pada akhirnya kita menemukan suatu penyelesaian dari konflik tersebut. Plot drama tersusun menurut apa yang dinamakan garis lakon (dramatic line) :
Pertama : lakon atau plot dimulai dengan insiden-insiden permulaan
Kedua : setelah itu mulailah terjadi penanjakan laku (rising action), sebagai tindak lanjut dari insiden permulaan. Konflik-konflik semkain menanjak, pertumbuhan atau komplikasi, yang berarti bagian lakon dimana konflik itu kian tumbuh dan bertambah ruwet. Jalan keluarnya masih dalam keadaan samar-samar, tak menentu.
Ketiga : klimaks krisis atau titik balik, disini mengalami puncak konflik yang paling tinggi.
Keempat : penurunan laku atau penyelesaian. Bagian lakon yang merupakan tingkat penurunan dalam geraknya menjelang akhir, dimana jalan keluar dari konflik-konflik atau insiden-insiden yang terjadi mulai nampak jelas jalan keluarnya. Setidaknya ada bayangan-bayangan jalan keluar dari konflik yang terjadi dalam lakon tersebut.
Kelima : keputusan, dimana seluruh konflik-konflik itu biasanya diakhiri.

b. Karakter atau Perwatakan
Adalah penampilan keseluruhan daripada ciri-ciri atau tipe-tipe jiwa seseorang tokoh dalam cerita lakon drama tersebut, karakter ini diciptakan oleh penulis lakon yang diwujudkan dalam penampilannya oleh aktor atau aktris yang memerankan tokoh-tokoh tersebut. Karakter ini akhirnya mendukung isi dan penampilannya dalam cerita lakon.

c. Dialog
Penampilan dari suatu cerita lakon drama didukung sepenuhnya oleh dialog (dan juga gerak) yang terdapat antara para pemain tokoh dalam lakon yang bersangkutan. Dialog-dialog yang dilakukan haruslah mendukung karakter dan melaksanakan plot dari lakon.

d. Penempatan Ruang dan Waktu
Penempatan ruang dan waktu (setting) ini sudah termasuk juga didalamnya latar belakang pentas. Guna mewujudkan suatu pementasan cerita lakon drama dibutuhkan suatu penggambaran yang sanggup mencerminkan dimana lakon tersebut yang sedang dinikmati ini terjadi. Setting harus sesuai dengan waktu/masa dari lakon yang maksud.

e. Interprestasi Kehidupan.
Sebagai karyawan seniman yang diangkat dari kehidupan dimana ia merupakan sumber penulisnya, penyajian cerita lakon drama haruslah sanggup menghidangkan kehidupan itu sebagaimana adanya seperti apa yang dimaksudkan dalam lakon itu oleh penulisnya.

_____________________________________________________________

BAB II
SENI BERPERAN

1. MASALAH PERMAINAN

A. Beberapa kategori dari sumber bermain.

a. Permainan merupakan jalan keluar bagi energi yang berkelebihan.
b. Permainan kanak-kanakan merupakan persiapan untuk hidup.
c. Teori rekapitulasi (ikhtisar, ringkasan pokok-pokok) bahwa masa pertumbuhan kanak-kanankan mengulangi atau meringkas kembali sejarah hidup manusia.
d. Dalam permainan, kanak-kanakan menyatakan reaksi-reaksi emosional dan sosial.

B. Psiko Drama dan Pskiologi Pemain Drama.
Karena problem individu hidup dalam drama, maka memungkinkan adanya pemecahaan. Hal ini dibuktikan dengan munculnya apa yang disebut psiko drama (drama berfungsi sebagai terapi). Pengelolahan psikologis permainan sedikit terdapat perbedaan antara pemain dan penonoton. Perbedaaan besar dalam kemungkinan-kemungkinan identifikasi pada tokoh cerita lakon drama tersebut.

C. Permainan Sebagai Pembebasan
Aktor harus menggambarkan orang lian, sekaligus ia tidak bisa berbuat selain menggunakan bahan yang ada padanya. Manusia pada umumnya suka sesuatu yang imitasi, artinya ia suka meniru orang lain.

D. Pembinaan Watak Permainan
Tiga bahan bagi aktor untuk menggambarkan apa yang telah ditentukan penulis lewat tubuh dan wataknya yakni menurut tiga fase cara aktor sebagai berikut :

a. Mimik : yaitu pernyataan atau perubahan gerak-gerik muka, mata, mulut, bibir, hidung, kening. Dalam hidup kejiwaan manusia terdapat tanda-tanda khusus dari perkembangan peradaban yang merupakan standar dari garis-garis wajah.

b. Plastik : yaitu cara sikap dan gerakan-gerakan pada anggota badan. Dengan sendirinya plastik ini terpengaruh oleh mimik dan pada umumnya bergantung pada tanda yang sama; tetapi tidak setegas dan seprinsipil yang ditentukan seperti pada mimik. Adapula sebaliknya tidak tergantung pada ekspresi mimik.

c. Diksi : yaitu cara penggunaan suara/ucapan. Disinilah diksi memberikan kebebasan kepada aktor untuk menghidupkan individualitasnya dalam berperan karena diksi ini tidak ditentukan oleh pengarang sehingga aktor mendapat kebebasan sepenuhnya, tetapi masih harus diperhitungkan dengan instruksi sutradara. Diksi memberikan banyak aspek istimewa yaitu pertama, tak dapat dinyatakan dengan sikap/gerak dan kedua suara harus berbicara dalam kata-kata.

**************************

2. POKOK DASAR BERMAIN DRAMA

A. Bakat dan Pengorbanan.
Tanpa adanya bakat maka suatu seni apapun yang diajarkan kepada kita maka perbuatan ini akan sia-sia saja. Setiap orang yang mempunyai citrarasa seni, jelas berarti orang tersebut mempunyai bakat dalam dirinya.
Mengenai hal bakat ini juga relatif, bisa ada bisa pula tidak ada. Kalau memang bakat itu ada, maka bakat itu bisa dikembangkan dengan baik hanya dengan bekerja keras dan tekun. Tetapi untuk menciptakan bakat atau mengadakannya pada diri seseorang jelas sesuatu hal yang sangat mustahil.
Bakat yang ada pada seseorang bisa dikembangkan dengan cara mendapat bimbingan, sehingga bakat yang dipunyainya itu maju berkembang dan kemudian bisa berdiri dengan apa adanya (pribadinya yang ada). Begitupun dalam permainan drama.
Bila kita memang mempunyai kecintaan pada dunia drama maka kitapun akan dituntut suatu kesetiaan yang utuh padanya. Seluruh kehidupan, pikiran bahkan emosi, hendaknya pula diberikan kepadanya. Tanpa ini atau sebagian saja maka akan sia-sialah kecintaan kita dalam drama selama itu. Memang dan tak dapat disangkal, bila kita mencintai sesuatu maka sudah wajarlah kalau bersiap-siaplah untuk menyerahkan segalanya demi kepentingan apa yang anda cintai itu, seluruh diri anda, tanpa pamrih, tanpa mengharapkan suatu balasan apapun juga yang kelihatannya begitu indah dan menarik.

B. Konsentrasi atau Pemusatan Pikiran
Aktor ialah seorang yang mengorbankan diri. Ia menghilangkan dirinya untuk menjadi orang lain yaitu perannya. Untuk menghilangkan/melupakan dirinya dan menjadi pada orang lain itu pertama-tama ia harus memiliki konsentrasi yang kuat. Di dalam konsentrasinya itu ia harus bisa menundukkan panca indranya, urat-urat dan seluruh anggota badannya. Bahkan suaranya harus bisa diperintahkan untuk berubah menjadi watak tokoh yang dimainkan. Agar action menjadi sempurna dalam profesinya, ia harus mengalami suatu pendidikan sebagai berikut :

Pendidikan Tubuh
Aktor harus selalu menjaga agar tubuhnya selalu siap dan terlatih. Dapat dilakukan satu setengah jam setiap hari, terus menerus. Untuk memperoleh aktor yang enak di pandang mata. Lebih jelasnya pada halaman lain akan di terangkan lebih mendalam.

Pendidikan Intelek dan Kebudayaan
Dalam konsentrasinya aktor harus bisa memerintah pikiran dan intelegansinya sendiri sehingga dapat mengubahnya untuk peran apa saja yang sedang dipegannya. Karena itu aktor sejati dan bermutu harus memiliki intelectual approach yang tinggi pula.

Pendidikan dan Latihan Sukma
Aktor tak bisa melakukan kewajibannya sebagai aktor jika ia tidak mempunyai sukma yan telah masak begitu rupa hingga, atas setiap laku dan perubahan yang sudah ditentukan. Dengan kata lain, aktor harus mempunyai sukma yang dapat hidup dalam setiap situasi, seperti kehendak pengarang. Aktor harus memainkan dengan permainan dalam atau batin (internal action) dan permainan luar atau lahir (external action) dari sukma ini berarti bahwa ia harus bisa mengubah sukmanya menjadi sukma tokoh tersebut. Oleh sebab itu ia harus mempunyai keahlian menumbuhkan kepercayaan pada penghayalan (imajinasi).

C. Ingatan Emosi
Aktor harus beralatih mengingat-ingat segala emosi yang terpendam dan halaman-halaman sejarah yang telah silam. Semua itu sekali waktu akan berguna untuk menolong aktingnya karena emosinya harus bisa berkembang sesuai dengan situasi apa saja yang terdapat dalam sebuah cerita.

D. Laku Dramatis
Jika kita sudah dapat menggali ingatan emosi, barulah kita mewujudkan dalam laku dramatis yaitu perbuatan yang bersifat ekspresif dari emosi. Aktor harus mewujudkan yang diutarakan oleh pengarang dengan kata-katanya didalam laku dramatisnya. Sebab, bagi laku inilah guna dan tujuan karangannya yang harus diperlihatkan oleh para aktor. Disini akting sebagai seniman bersifat reproduktif dan kreatif sekaligus.

E. Pembangunan Watak
Demikianlah maka aktor lalu mendapatkan gambaran tentang peran yang akan dipegangnya. Kemudian gambaran ini harus diperjelas lagi dengan jalan :
a. Menelaah Struktur Psikis Peran
Bagaimana intelegensinya ? Bagaimana sikap wataknya di luar dan di dalam ? Bagaimana pengaruh masa lampau peran itu ? Bagaimana kedudukan sosial peran itu ?

b. Memberikan Identifikasi
Yaitu laku-laku yang mengungkapkan watak-watak tersebut. Menyelidiki setiap detail kehidupan peran harus diperhatikan ialah identifikasi yang hakiki. Seorang aktor bisa melihat kepada dirinya sendiri apakah identifikasi peran yang akan dipegangnya ada terdapat pada dirinya sendiri (jika ada, ini mudah menirunya). Kalau tidak ada, adakah identinfikasi itu pada dirinya kawan-kawan, kenalan, tokoh-tokoh di sekitarnya ? (kalau ada bisa dicoba untuk menirunya dengan teliti). Kalau tidak ada, seorang aktor bisa pula mempergunakan konstruksi dengan memperhatikan gambar-gambar, foto-foto, patung-patung dan sebagainya.

c. Mencari Hubungan Emosi dengan Peran itu.
Hendaklah dicari hubungannya antara naskah dengan emosi. Dalam hubungan ini yang tepat ialah bahwa naskah harus keluar dari emosi yang kita rasakan, bukan sebaliknya. Kita harus aktif , mulai menghidupkannya, menggunakan naskah.

d. Penguasaan Teknis
Yaitu penguasaan diksi, mimik, gerak dan pantomimik. Di dalam setiap ucapan dan akting harus tergambarkan situasi watak yang tersembunyi dibaliknya. Dalam penguasaaan tekhnis, kita dapat membedakan dua hal yang harus kita selesaikan :
Pertama : Disini kita membangunkan pengertian situasi dramatis di mana kita harus mengucapkan naskah itu.
Kedua : Kita berusaha dengan bantuan suara dan tubuh sehingga terdapat persesuaian antara ucapan dan perbuatan kita.
Emosi diperlukan untuk memberikan kedalaman pada watak yang kita mainkan, sedangkan penguasaan tekhnis kita perlukan untuk memberikan bentuk teater padanya.

F. Observasi atau Pengamatan.
Seorang aktor harus merupakan seorang observator kehidupan. Aktor harus memasuki segala kehidupan dan mengambil pengalaman serta catatan dari semua itu. Fakta menunjukkan bahwa hanya sedikit sekali orang dewasa yang dapat mengingat apa yang telah diperbuat/dilakukannya dalam masa 24 jam terakhir.

G. Irama
Agar lakon itu dapat menghayutkan penonton ke arah yang dituju, tanpa disadari, maka permainan itu haruslah mempergunakan irama. Dalam teater digunakan istilah sebagai berikut. “tempo” atau “kecepatan”, tetapi sebetulnya kata ini tak ada hubungannya apa-apa dengan irama.
Perumusan yang agak kena dan dapat dipergunakan bagi setiap seni adalah : irama harus dipahami sebagai perubahan-perubahan yang teratur dan dapat diukur dari segala macam unsur yang terkandung dalam sebuah seni dengan syarat bahwa semua perubahan secara berturut-turut merangsang perhatian penonton dan menuju ke tujuan akhir.
Sebuah lakon mempunyai irama. Irama itu berjalan kearah klimaks. Tanpa irama pasti akan membosankan penonton (monoton). Aktor harus mempunyai kemahiran menunjukkan irama ini. Ia harus berlatih memikat perhatian penonton dan menuntun perhatiannya kearah klimaks. Didalam hidup kita pun ada suatu irama kehidupan yang membuat kita ingin hidup.

****************************

3. PEMERANAN DAN PERWATAKAN

A. Pemeranan
Bagaimana cara membawakan sebuah peranan dengan baik ? Untuk membawakan sebuah peranan, seorang calon Aktor/Aktris tidak cukup dengan menghafalkan dialognya sendiri saja, melainkan sebagai berikut :
a. harus memahami proses perkembangan dari kegiatan pementasan drama.
b. Harus mengetahui apa yang diungkapkan dalam drama itu (ide penulis = isi naskah).
c. Harus mengetahui perwatakan yang akan dibawakan.
d. Harus mengetahui apakah dirinya sebagai pelaku utama atau bukan/pelengkap (figuran).
e. Harus menghayati betul-betul motivasi dari setiap perbuatan (external action dan internal action) yang diungkapkan dalam cerita.
f. Harus mengasimilasikan antara external action dan internal action.

Pokok dari pementasan adalah meresapi dialog, mengimajinasikan dan mengekspresikan lewat aktingnya.
Sikap pemeranan akan terlihat jelas dan menyakinkan bila calon aktor/aktris telah menguasai teks serta lakunya peranannya. Usaha selanjutnya ialah merangkaikan tingkah laku dan perasaannya, lalu menciptakan suasana pentas dan akhirnya mengajak penonton ke arah suasana yang dibawakannya. Aktor/aktris yang baik ialah mampu membawa penonton ikut merasakan apa yang sedang dialami dan dirasakan olehnya (mempengaruhi segi kejiwaan penonton).
Dengan demikian setiap aktor/aktris harus memiliki “warna peranan” yaitu konsep peranan yang akan dibawakan/ditampilkan, sesuai dengan makna naskah yang dipentaskan.

B. Perwatakan
Dalam hal pementasan dan penampilan perwatakan ini, hal-hal yang merupakan dasar-dasar perwatakan perlu di perhatikan dan seyogyanyalah dilakukan oleh setiap calon aktor/aktris yakni :
a. Menafsirkan dan menciptakan perwatakan atau “karakterisasi” itu sesuai dengan alur dan makna naskah.
b. Merinci peran menjadi peran utama dan peran pembantu (figuran), untuk mempermudah pembagian atau penentuan perwatakan. Hal ini tidak berarti bahwa ada peran yang tidak penting. Di dalam drama, semua peran itu penting. Setiap bagian, walaupun kelihatannya remeh ikut membantu menciptakan suasana secara keseluruhan.
c. Serangkaian latihan dasar untuk menciptakan sesuatu proses sebelum menentukan suatu ekspresi.
d. Menghafal pola pemeranan secara organik, artinya ; menghayati seluruh rangkaian pikiran dan perasaanya, serta mengingat-ingat fungsi pemeranan dan perwatakan, yang sekaligus mengekspresikannya kemedia tersebut.
e. Perwatakan dapat di ciptakan lewat lahiriah dan batiniah yang terdapat pada peran atau tokoh yang akan dimainkan oleh seorang calon aktor/aktris.

_____________________________________________________________

BAB III
CALON AKTOR

1. AKTOR (PEMAIN) YANG BAIK
Secara singkat dapat dikatakan bahwa aktor (pemain) yang baik , ialah apabila :
a. berakting wajar, releks, fleksibel.
b. Menjiwai/menghayati perannya.
c. Aktingnya mempunyai motivasi.
d. Terampil dan kreatif.
e. Mengesankan atau dapat menyakinkan penonton.
f. Tidak merasa kalau sedang disorot publik/penonton/kamera.

Catatan : Pengertian ‘wajar” dalam hal ini meliputi :
a. sikap/gerak atau perbuatan tidak canggung tidak kau, tidak over akting tidak dibuat-buat.
b. Dialog mengena sesuai dengan tuntutan dari naskah dan tidak dibuat-buat.
c. Vokal jelas atau ucapan artikulasi jelas.
d. Penggambaran watak atau karakter tepat.
e. Ekspresi wajar dan menyakinkan.
f. Dapat memanfaatkan segala property dan situasi pentas dengan baik.

Maka untuk menjadi aktor (pemain) yang baik dipersiapkan :
a. Latihan-latihan yang kontinyu, tertib dan disiplin.
b. Pengetahuan yang bersifat teoritis, meliputi :
– Ilmu teater
– Ilmu jiwa
– Kepercayaan sesuatu agama yang diyakini.
– Apresiasi terhadap seni sastra, suara/musik, tari dan sebagainya.
– Kemampuan/ketrampilan berbahasa dengan baik.
– Sejarah budaya, sosiologi, antropologi, ethionologi.

*****************************

2. YANG HARUS DIMILIKI OLEH SETIAP AKTOR
a. Mempelajari kehidupan ; langsung/pernyataan sendiri dan dengan membaca.
b. Memiliki “motor acting” (kemauan, perasaaan, imajinasi).
c. Memiliki “visi seni/budaya”.
d. Memiliki “moral/etika” ; rendah hati, tekun/rajin, disiplin mau belajar, toleransi, tanggung jawab dan sebagainya.

**************************

3. TUGAS AKTOR (PEMAIN)
Tiap aktor/aktris dalam membawakan perannya harus mengetahui motivasi perbuatannya yaitu segala sesuatu yang menimbulkan akibat dari perbuatan dan tujuan dari perbuatannya. Perlu diperhatikan bagaimana cara-cara seorang aktor “menyatukan” diri dengan pribadi tokoh yang hendak ia perankan. “Kondisi batin” yang diciptakan inilah yang kemudian akan menghasilkan permainan yang kreatif, permainan yang tidak lahir dari klise-klise tapi dari dorongan motivasi-motivasi yang hidup dan wajar. Dan bagaimana seorang aktor dapat mengkomunikasikan “penghayatannya” ini pada penonton melalui tubuh dan suaranya.

**********************

4. ACTION DAN ACTING
Action : segala kegiatan/perbuatan yang dilakukan oleh para pelaku; segala kejadian yang menggambarkan situasi termasuk ilustrasi suara (=akting serta urutan peristiwa yang digambarkan / dibawakan oleh para pelaku sesuai dengan isi naskah).
Jadi action tersebut meliputi acting (mimik, pantomim, dialog dan penggambaran situasi dan ilustrasi suara), dan urutan peristiwa.
Acting : segala gerak/perbuatan yang dilakukan oleh para pelaku.

Proses akting :
Peran
Hidup Penulis Drama Naskah Peran
(Karakter)
Aktor Penonton

Tujuan akting : “to be a character”
(menjadikan peran/mengekspresikan suatu perwatakan)
Tekhnik akting :
a. Presentational : realistis
b. Representational : non realistis
(ekspresionistis, simbolis, karikatural)
Teknik terbaik ialah tekhnik yang paling efektif, yang berhasil mengekspresikan intent (maksud ide) penulis, intent adegan dan intent karakter. Untuk itu dapat berakting dengan baik, ada 10 macam cara (tekhnik) yang perlu diperhatikan :
– Metode tindak lahir : aktor harus mengetahui lebih dulu motivnya (dasar dan tujuan).
– Kemampuan mengandaikan; bila jadi tokohnya apa dan bagaimana yang harus aktor lakukan ?
– Kemampuan imajinasi; menggambarkan / membayangkan sesuatu yang tidak ada.
– Konsentrasi ; memusatkan perhatian.
– Emosional memori ; mengingat-ingat/mengenang kembali pengelaman atau kejadian-kejadian yang pernah dialami sendiri kira-kira sama/serupa.
– Kesatuan ; antar aktor dengan yang lainnya saling menyati dan kerja kolektif.
– Harmony; setiap aktor harus berusaha dapat menyesuaikan dirinya dengan peran/perwatakan yang dibawakan (menghayati/menjiwai).
– Tempo irama ; tiap akting harus ada iramanya.
– Super obyektif ; tiap aktor harus tahu siapa yang sedang memegang peranan penting dalam suatu adegan yang sedang berlangsung.
– Kebenaran dan keyakinan ; aktor harus yakin akan peran yang dibawakan.
Prinsip-prinsip akting :
a. Order (tertib) : tidak kabur, tidak sembarangan (awut-awutan) dan disiplin.
b. Harmony dan : tidak menonjolkan salah satu
Balance aspek (fisik, emosi personal,
Psikis, intelek, alami)
c. Selective dan : aktor harus dapat memilih
Control akting yang paling bagus dan
Kontrol akting.

**************************

5. PERSIAPAN LATIHAN DASAR
Setiap aktor harus mempersiapkan diri untuk melatih peralatan yang terdapat pada dirinya. Dimana hanya diperuntukkan dalam bermain drama dengan benar. Persiapan latihan ini membutuhkan waktu yang lama dan tak ada henti-hentinya. Sebagaimana bila ia ingin atau masih menyatakan dirinya sebagai aktor, maka setaip saat harus selalu siap dalam kondisi apa saja. Tiada kata “seorang aktor berhenti dalam berlatih”. Peralatan yang dimaksud disini adalah pertama, bentuk luar yang berupa suara dan tubuh. Kedua, bentuk dalam diri yang berupa perasaan dan pikiran. Empat hal inilah yang utama dari modal seorang aktor dalam memainkan peranannya.

Suara (vokal ) dan Ucapan .
Dalam dunia teater yang semakin berkembang dewasa ini, kemampuan vokal menjadi salah satu tumpuhan pemeran untuk dapat menampilkan laku perannya dengan baik. Lain perkataan , melalui kemampuan “ laku – vokal “ pemeran dituntut untuk dapat menyampaikan informasi – informasi perannya. Ia diharapkan untuk menampilkan gagasan – gagasan menjadi perwujudan watak – watak yang nyata dengan efek – efek yang diperhitungkan bagi penontonnya. Jika suara untuk melontarkan dialog itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya maka nilai – nilai sastra yang terkandung tak akan dapat dikomunikasikan kepada pendengarr atau penonton. Sehingga yang perlu diingat bahwa vokal sebagai salah satu media pengungkapan ekspresi pemeran, dan hal ini merupakan media penyajian informasi melalui dialog.
Seorang pemeran akan terlihat membawakan laku perannya dengan baik seolah tidak ada beban tekhnik sebab ia dengan kesadaran yang penuh telah melatih seluruh peralatan pemerannya agar vokalnya menjadi lentur dan dapat berartikulasi dengan jelas. Ini semua dibutuhkan adanya suatu ketekunan, keuletan yang disertai dengan tekad dan kemauan keras untuk terus menerus melatih seluruh peralatan tersebut. Karena ketekunan dan keuletan berlatih akan dapat memanfaatkan dan mengembangkan kemampuan vokalnya tahap demi tahap. Tentu saja asalkan aktor yang bersangkutan tidak memiliki atau mengidap cacat peralatan vokal.
Bagian – bagian pokok yang menyangkut dengan suara / vokal :

A. Pernafasan
Nafas mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, tanpa nafas yang baik kesehatan manusia akan sangat terpengaruhi. Bernafas untuk hidup sehari – hari dan bernafas untuk bermain drama sangatlah lain, meskipun sama – sama dalam hal bernafas. Bernafas untuk hidup berkenaan dengan bagaimana harus mengisi pada rongga dada yang berguna bagi pembakaran darah. Untuk ini tak ada faedahnya mengajarkan bagaimana caranya bernafas, karena sejak lahir kita telah bernafas.
Kita tak akan berkata tanpa menarik nafas. Kata –kata yang kita lepaskan diikuti dengan keluarnya udara dari mulut. Jika persediaan udara dalam rongga dada telah terkuras keluar maka tak sepatah katapun dapat kita ucapkan dengan jelas, karena nafaslah yang menjadi sumber tenaga penggerak / penggetar pita suara kita.

Ada tiga macam cara pernafasan yaitu sebagai berikut:
a. Pernafasan dada yaitu saat kita bernafas maka bagian dada yang mengembang dan mengempis bila kita mengeluarkan nafas.
Pernafasan dada kurang baik dilakukan dalam menghimpun tenaga sebagai penggetar sumber suara. Karena mengakibatkan pemeran merasa cepat lelah dalam memproduksikan suara, sebab peralatan pernafasan tidak dapat bekerja dengan leluasa. Demikian juga pemeran akan cepat merasa gatal – gatal ditenggorokan dan disusul kemudian dengan penampilan suara yang serak.

b. Pernafasan perut yakni saat kita bernafas maka bagian perut yang mengembang dan mengempis saat kita menghembuskan nafas.
Pernafasan perut ini kurang mempunyai daya untuk mendukung pembentukan volume suara. Tapi pernafasan ini cukup baik untuk melatih vokal dari pada pernafasan dada.

c. Pernafasan Diafragma yaitu dada dan perut mengembang saat kita bernafas. Dimana tahapan perut lebih dominan dari pada dada.
Pernafasan Diafragma adalah yang paling efektif bagi seorang aktor dan paling menguntungkan dalam berolah vokal. Sebab tidak mengakibatkan ketegangan pada peralatan pernafasan dan peralatan suara serta juga mempunyai cukup daya untuk pembentukan volume suara.

Ada baiknya juga mengadakan latihan pernafasan dengan cara lainnya karena pernafasan seseorang tergantung pada kebutuhan kegiatan fisiknya ( misalnya akrobat ) menuntut jenis pernafasan yang lain.
Perlu diperhatikan bahwa untuk wanita, pernafasan yang cocok adalah yang menggunakan perut dengan bagian dada ikut bekembang sedikit sekali dibandingkan dengan pernafasan pria. Hal ini disebabkan karena memang adanya perbedaan alamiah pada susunan tubuh.

B. Membuka Laring
Laring (larink) terletak di bagian atas pipa suara yang terdapat sepasang pita suara. Apabila pita tersentuh udara atau nafas, maka akan bergetarlah ia sehingga menimbulkan suara secara efektif sehingga tidak mampu menggunakan suaranya dengan benar. Dikatakan laring itu tertutup apabila :
– suaranya datar
– ketika menghirup udara, terdengar suara yang menyertainya
– otot pada leher bagian belakang terjadi kontraksi, juga otot – otot di bawah dagu
Laring akan selalu terbuka apabila seseorang melatihnya dengan sensasi untuk mendapatkan ruang yang cukup banyak di mulut bagian belakang ( seperti misalnya kita sedang menguap ).

C. Pengucapan
Untuk dapat berartikulasi dengan baik dibutuhkan kelenturan alat – alat pengucapan, sering kita lihat seorang pemeran yang bersuara cukup nyaring tetapi tidak menampilkan artikulasi yang cukup baik maka kejelasan informasi pun terhambat pula.
Salah satu penghambatnya adalah selain otot – otot peralatan pengucapan yang kurang terlatih, juga disebabkan yang bersangkutan segan atau malu untuk membentuk rongga bibir sesuai dengan bentuk lambang bunyi yang dibawakan. Bahkan banyak orang yang enggan membuka mulut selagi membentuk artikulasinya. Tentu saja hal semacam ini tidak pada tempatnya.
Artikulasi yang baik akan dapat dicapai dengan menempatkan posisi alat – alat pengucapan pada posisi yang wajar tetapi dengan penggunaan tenaga yang efektif dan senantiasa terkontrol.
Suara ucapan panjang atau pendek caranya harus membangun pada suatu klimaks. Ini berarti bahwa satu dari unsur – unsur berikut harus dikembangkan dari permulaan, yaitu volume, intensitas emosi, variasi jarak kecepatan, nada atau irama ( diksi, tekanan ).
Latihan menciptakan irama gunanya agar aktor mampu menghindari pengucapan dialog yang monoton ( datar ). Bayangkan saja apa yang terjadi pada penonton kalau aktor yang dialognya monoton. Penonton jadi bosan, jenuh.

T u b u h
Dalam pekerjaan sehari – hari seorang aktor / aktris, ia akan berhadapan dengan berbagai masalah yang menyangkut dengan tubuhnya. Berbagai perasaan yang berkecamuk di batin tokoh yang diperankan, harus mampu dilahirkan melalui tubuhnya.
Kondisi – kondisi badaniah yang dihadapi tokoh harus mampu dikemukakan dengan memanfaatkan tubuhnya. Melalui tubuhnyalah seorang aktor / aktris, berkomunikasi. Dengan tubuhnya, yang terdiri dari bagian – bagian, ia harus mampu bercerita. Dan ceritanya ini harus dapat meyakinkan orang lain.
Banyak yang dituntut dari segi fisik. Sebanyak tuntutan yang ada dari segi kejiwaannya. Tubuhnya boleh berbentuk bagaimana saja, sesuai dengan kebutuhan tokoh yang akan diperankan. Ia kurus tinggi, bisa pendek gemuk, besar tegap atau sedang – sedang saja dan berbagai bentuk tubuh yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari – hari.
Tapi dari dirinya dibutuhkan kesiapan yang mutlak. Sebaiknya tubuhnya siap pakai dalam kondisi seperti apapun juga. Kelenturan tubuh, keluwesan bergerak, kemampuan untuk bepasif dengan seluruh tubuhnya, atau kesanggupan untuk bersikap tak melawan dan berbagai sikap serta perbuatan lainnya harus mampu dilahirkannya.
Salah satu usaha untuk itu adalah latihan – latihan fisik, yang sering kita dengar adalah “olah tubuh”. Kemudian kita bertanya, dapatkah tubuh diolah ? Apakah olah tubuh ini suatu olah raga ? Olah tubuh bukan olah raga, walaupun raga atau badan itu menjadi subyek latihannya. Ini merupakan suatu usaha untuk melatih diri seorang aktor/akrtis agar setiap saat mampu memerintah tubuhnya secara sadar, melakukan perbuatan – perbuatan atau gerak – gerak yang selalu berbuat berdasar pengalaman badan subyeknya.
Untuk dapat dengan mudah memahami dan menguasai berbagai latihan dalam olah tubuh maka dari si aktor / aktris diharapkan agar mampu “melihat” badannya sebagai sesuatu yang berada diluar dirinya. Dengan demikian aktor/aktris dapat melatih kesadaran baru untuk bisa berkuasa atas badannya melaksanakan perbuatan badan yang bergerak diluar dari kemauannya.
Olah tubuh ditujukan untuk meningkatkan disiplin yang spontan pada semua bagian tubuh. Latihan – latihan ini bertujuan untuk penguasaan rasa dan kesadaran pada tubuh yang berupa ruang dan bobot berat. Tapi juga faktor waktu juga berada dalam tubuh. Latihan olah tubuh akan membuat aktor / aktris sadar, bahwa tubuh dan gerak tidak pernah saling bertentangan. Ia akan dapat merasakan bahwa setiap bagian pada tubuhnya menjalankan fungsi aktif dalam menempuh ruang.
Bentuk tubuh anda dan cara – cara anda berdiri, duduk, dan jalan memperlihatkan kepribadian anda. Motivasi – motivasi anda untuk melakukan gerak lahir dari sumber – sumber fisikal ( badaniah ), emosional ( perasaan ), mental ( pikiran ) dan setiap tindakan ( action ) anda berasal dari satu, dua atau tiga macam desakan hati. Banyak sekali interaksi dan permutasi, atas pengaruh timbal balik dan perubahan urutan yang tak habis – habisnya.
Latihan olah tubuh adalah suatu proses pemerdekaan. Kemerdekaan dalam hal ini dimaksudkan sebuah batu loncatan yang memungkinkan anda dan tubuh anda siap mengabdi pada akting.

Perasaan Dan Pikiran
Kedua modal ini sangat vital bagi diri seorang aktor, sebagaimana bentuk alamiah dari manusia selain wujud yang dapat terlihat tentu dibalik yang terselubung dalam jiwanya. Seperti halnya manusia itu sendiri dari bentuk jasmani ( jiwa ) dan rohani ( batin ).
Adapun rohani yang tidak dapat kita lihat itu membentuk ciri hidup manusia dan jasmaniahpun sebagai pelengkap pada bentuk dasar untuk keperibadian manusia.
Perasaan dan pikiran manusia itu merupakan pokok dasar yang akan membentuk perwujudan jasmaniah. Salah satunya dasar motorik yang secara spontan. Itulah sebabnya pada perasaan dan pikiran merupakan satu kekuatan yang tak dapat dipisahkan.
Oleh karenanya, agar pikiran dan perasaan tersebut dapat terkontrol dengan baik sesuai pada kehendak yang diinginkan. Maka kita harus sadar akan keterkaitan antaranya perasaan dan itu.
Perlu sekali seorang aktor mempelajari tentang kejiwaan dan prilaku manusia disekitarnya. Tak dapat dipungkiri jikalau aktor tidak meninggalkan ilmu psikologi. Sebab seorang aktor / aktris akan membentuk atau menciptakan peranannya yang sesuai dengan tuntutan naskah / skenario.
Agar kita atau sebagai seorang aktor/aktris dengan mudah memainkan peranannya, maka dia harus banyak melatih dan membiarkan perasaan, pikirannya mengembara terus. Kepekaan perasaan dan pikiran akan nampak cepat menerima dengan baik itu dari hasil latihan yang kontinue.
Ada beberapa hal yang dapat melatih perasaan dan pikiran tersebut sebagai berikut : Konsentrasi, Penghayatan, Imajinasi, Adaptasi, Observasi dan Mempelajari Ilmu Pengetahuan. Disamping itu perlu diingat bahwa latihan tersebut dilakukan dengan kesadaran, tanpa ketegangan, dan setiap saat.

_____________________________________________________________

BAB IV
MEDIA EXPRESI AKTOR

1. MEDIA PENTAS / PANGGUNG
Pentas adalah suatu tempat dimana para pemain memainan sebuah lakon dihadapan penonton. Kurang tersedianya pentas adalah terasa sekali atau andaikata ada pentas tersebut bukan merupakan suatu pentas yang tepat untuk mementaskan drama. Disamping itu andaikan ada pentas atau panggung, masyarakat tidak memperhatikannya. Kalau menurut Shakespeare “Seluruh dunia ini merupakan pentas” = “All the world’s a stage”, dengan begitu bisa saja setiap lingkungan masyarakat memiliki sebuah pentas yang memadai dan sesuai untuk mementaskan sebuah lakon.
Mengapa di sini memakai pola pentas, karena mempunyai arti menyeluruh atau universal dalam hal mengenai tempat pertunjukan. Sedangkan panggung memiliki arti sempit yakni suatu tempat pertunjukan yang memiliki bentuk ketinggian dari alas / lantai ( daerah permainan ).

Macam – macam bentuk pentas atau panggung antara lain :
a. Bentuk arena yaitu sebuah bentuk pentas yang memiliki kesederhanaan dan keakraban sifa – sifat pelayanannya. Terdapat berbagai macam bentuk pentas arena ini sebagai berikut; pentas arena sentral, pentas arena tapal kuda, pentas arena U, pentas arena L, pentas arena setengah melingkar, pentas arena melingkar, pentas arena bujur sangkar, dan lain sebagainya.

b. Bentuk prosenium yaitu sebuah bentuk panggung yang memiliki batas dinding prosenium antara panggung dengan oditorium ( tempat penonton ). Pada dinding proseniumnya terdapat pelengkung prosenium dan lubang prosenium.

c. Bentuk campuran yaitu sebuah bentuk panggung yang memiliki bentuk percampuran dari teater arena dan teater prosenium dengan menggabungkan dan meniadakan beberapa sifatnya. Yang digabungkan adalah sifat kesederhanaan pentas dari arena dan sifat adanya jarak yang jauh pada pentas prosenium. Yang ditiadakan adalah sifat keakraban pentas arena dan sifat ketertutupan pentas prosenium.

Denah daerah permainan ( pentas – panggung )
Terbagi menjadi enam bagian yang mempunyai nilai masing-masing

Body Position ( posisi tubuh pemain di atas pentas )
Full Front ( menghadap ke depan penonton )
Full Profile ( posisi menyamping )
Full Back ( membelakangi penonton )

Tiap wilayah, daerah atau petak dalam pentas mempunyai kualitas tertentu. Pengambilan posisi seorang pemain pada suatu petak, juga bloking, pengelompokan atau grouping beberapa pemain pada kotak tertentu, akan mengungkapkan kandungan perasaan yang berbeda, sesuai dengan watak petak pentas.

Watak Pentas.
Adapun kualitas dan watak petak itu adalah sebagai berikut :
IV : Kanan Bawah ( KB ). Adegan – adegan kecil yang tidak penting, baik dilakukan disini. Watak wilayah ini bersifat lembut, lemah dan jauh.
V : Tengah Bawah ( TB ). Meski jauh dan dingin tapi cukup kuat. Daerah ini baik untuk memulai suatu adegan penting yang bakal bergerak ke wilayah atas. Untuk memulai sesuatu yang baru.
VI : Kiri Bawah ( KrB ). Lembut, jauh, lemah. Untuk adegan – adegan tidak penting. Sama seperti Kanan Bawah ( KB ) tapi lebih lama. Daerah ini amat efektif untuk adegan – adegan horror, adegan hantu sebab daerah ini mengungkapkan kualitas dunia abstrak.
I : Kanan Atas ( KA ). Akrab, hangat, kuat. Tepat sekali untuk adegan – adegan percintaan ataupun perikemanusiaan, cinta kasih. Karena konotasinya dengan hati dan iklim rumah tangga dan sebagainya.
II : Tengah Atas ( TA ). Daerah ini paling kuat, penuh tekanan, agung. Bidang ini biasanya dipergunakan pada saat kekuatan – kekuatan dalam cerita saling berhadapan satu sama lain.
III : Kiri Atas (KrA). Petak ini sebenarnya juga berkualitas seperti KrB, akan tetapi lebih kuat. Amat baik untuk tindak lanjut dari adegan – adegan yang sudah dimulai pada KrB. Namun ciri petak ini adalah untuk adegan – adegan penuh rahasia, skandal, cemburu dan sebagainya.

********************

2. MEDIA TELEVISI
Bermain di layar televisi memang sangat lain dibandingkan dengan bermain untuk pentas. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari segi sebagai berikut :
a. Televisi merupakan media elektronik dimana kehadiran total aktor tidak dapat dinikmati publik. Komunikasi antara aktor dengan publik “dihadang“ oleh seperangkat peralatan teknis, disekat oleh “pemilihan frame”.

b. Perpindahan babak dalam televisi hanya memerlukan waktu beberapa detik melalui fade atau dissolve.

c. Masalah gerak dalam televisi sebagian besar adalah gerakan dalam takaran kecil. Bukan lebar dan besar. Demikian pula dengan gerakan yang cepat (kecepatan gerakan) tidak dapat kita kerjakan sebebas kalau kita bermain di panggung.

d. Suara letupan yang kita keluarkan melalui mulut tidak memerlukan pengerahan teknik vokal yang sebagaimana di atas panggung. Bersuara dengan wajar dalam duration yang sudah pasti.
e. Seperti pula dalam film, suatu hal yang harus diingat ialah bahwa fungsi mata penonton telah diambil alih oleh kamera.

f. Hukum dimensi seperti panggung, tidak berlaku bagi film atau televisi.

g. Mengukur tekanan pemain bukan melalui posisi di pentas, melainkan melalui kamera yang menciptakan gambar – gambar besar. Bahasanya, ungkapannya di media televisi berbeda dengan panggung.

h. Karena kamera telah mewakili mata pemirsa / pirsawan, maka pirsawan tidak dapat sesuka hati menatap apa yang dihendaki dari seluruh benda yang ada dalam setting, sebagaimana yang dapat dilakukan di panggung.
Harus diakui, bermain di televisi memang sangat sulit. Pada mula sekali aktor panggung akan kikuk menghadapi TV Script, yang bentuknya tidak sama dengan scenario panggung, hingga penghayatannya tergangggu. Televisi menuntut akting seperti pada film, menampilkan akting “spontanitas” yang sudah dilatih, plus kepekaan sadar – ruang seperti di panggung, dengan suara warna radio.

***********************

3. MEDIA FILM
Film, bukanlah cerita drama yang kemudian direkam oleh sebuah alat yang kita kenal dengan kamera. Ada perbedaan yang sangat jelas antara film dengan panggung sebagaimana seperti di televisi.
Dalam film kita mengenal istilah “montase” yaitu irama atau susasana dan kontras – kontras yang dapat dicapai, baik dengan jalan penempatan kamera (shots), maupun dengan jalan menyusun dan merangkai bagian – bagian film (cutting). Pada film kita akan mengenal istilah – istilah seperti halnya dalam TV; close up, medium shot dan sebagainya. Dalam panggung hanya ada satu shot saja yakni lewat pandangan mata penonton secara langsung.

Ada hubungan kesamaan dengan panggung yakni mereka sama – sama mengangkat suatu kehidupan ini yang satu ke atas pentas, yang lain merekam lewat film yang kemudian menyorotkan ke layar perak.

Unsur – unsur pada akting untuk film, ada lima dasar yaitu:
a. Keterpisahan aktor dari penonton
Yang harus diingat disini bahwa aktor harus menjangkau melampaui halangan – halangan itu dan memproyeksikan suatu rasa kesadaran berkomunikasi dengan penonton.

b. Kamera dan efeknya atas aktor
Karena dan efeknya di sini sangat menentukan, karena pada film, kepada penonton diberikan bermacam ragam pandangan untuk melihat penggambaran watak.

c. Permainan lepas dari Sikwens
Dilakukan karena untuk memenuhi tuntutan rencana biaya dan tempat saat shooting film. Penyutingan gambar tidak dilakukan secara urutan kronologis seperti di panggung.

d. Permainan dalam unit – unit kecil yang terpisah
Aktor layar putih harus bekerja dalam unit – unit waktu yang kecil dan pendek sekali yang terpisah – pisah, yaitu dalam shot – shot dan scene – scene.

e. Penyusunan kembali permainan melalui editing
Elemen terakhir yang membuat akting untuk layar putih yakni kesadaran si aktor selama shooting film itu, bahwa kemudian permainannyanya akan dinilai lagi dan disusun bangun kembali.

Ada tiga dasar elemen yang di atasnya seorang aktor membangun suatu pertunjukan permainannya yang berhasil di layar putih dan melalui dasar – dasar itu permainannya dapat dinilai, yaitu :
a. Proyeksi dari keyakinan yang ada dalam diri. Dimana si aktor memproyeksi suatu kebenaran batiniah yang bukan hanya “menjauhkan rasa tidak percaya”, tetapi yang membawa penonton dalam dunia film itu, membuat film itu menjadi bagian dari kehidupan mereka.

b. Permainan secara fisik. Gerakan – gerakan seroang aktor akan membantu menunjukkan perasaan dan pikiran tokoh yang dimainkan. Dengan bantuan perangkat teknis film gerakan tersebut akan menjadi unik.

c. Komunikasi intelektual. Sementara komunikasi emosional atau melalui perasaan langsung menjadi nyata dan timbul langsung dari keyakinan dalam diri aktor tersebut, komunikasi intelektual atau melalui pikiran harus diproyeksikan oleh si aktor.

**********************

4. MEDIA RADIO
Pentas drama radio tidak sama dengan panggung atau film dan televisi. Keberhasilan siaran drama radio akan lebih banyak ditunjang oleh kemampuan teknis penampilan suara di dalam membentuk khayal pendengarnya.
Bermain drama radio tidak menuntut hafal teks. Namun demikian sebaiknya para pemainnya minimal 25 % hafal. Ini diperlukan bagi penjiwaan yang dituntut lebih besar lewat pengucapan dialog. Karenanya casting lebih ditekankan pada perbedaan volume suara yang amat kontras. Supaya perbedaan watak dapat jelas tergambar.
Jarak mulut pemain dengan mik juga besar pengaruhnya. Penentuan jarak ideal harus dicari, ditetapkan. Kemudian dijadikan standar untuk tiap kali tampil.
Para pemain mesti jeli menemukan apa yang terkandung dalam tiap kalimat. Dikuasai perwatakan dengan dicoba – coba menampilkan lewat lagu bicara. Pemain harus memperhatikan aba – aba dari operator atau dari sutradara dimana akan memulai adegan tersebut.
Bermain drama radio dituntut dengan teknik suara yang penuh warna, dengan suara wajar, tidak monoton. Sedangkan pemainnya untuk tiap adegan jangan lebih dari empat orang. Kecuali untuk peran – peran figuran.
Hingga kini berkembanglah suatu permainan lewat media Audio Visual yang bertolak pada dasar bermain drama radio. Dubbing film (pengisian suara film) tidak berbeda dengan bermain drama yang sudah terbentuk secara visual dan dengan mengisinya lewat dialog drama tersebut. Seorang dubber sangat dituntut kepekaan terhadap gambar di TV ataupun di film dan keahlian untuk bermain sesuai tokoh dalam drama tanpa mnghilangkan suasana dramatik yang sudah diciptakan semula.
Adapun dubbing yang sekarang dikenal dengan sebutan Sulih Suara itu akan memberikan nuansa tersendiri jika sebuah film tersebut diharuskan untuk dialih bahasa atau memang harus diisi ulang suara tokoh tersebut karena saat shooting lingkungan / lokasi sangat mengganggu perekaman suara. Disini banyak sekali tontonan film asing yang harus dialih bahasa Indonesia hingga kita dapat memahami cerita dengan baik dan tidak terganggu dengan kesempatan membaca teks / terjemahannya.

____________________________________________________________

DAFTAR KATA

Abstrak : Yang diangan-angan. Tidak Konkrit Teoritis, Ideal.
Absurd : Tak berasalan, Absurditas, sesuatu yang ganjil.
Adegan : Pemandangan, kesatuan waktu dan tempat.
Antogonis : Tokoh yang menghalangi tercapainya cita-cita pelaku utama.
Artikulasi : Cara mengucapkan kata secara tepat dan benar.
Artistik : Sesuatu yang mempunyai ungkapan seni.
Asko (ass. Koor) : Istilah TV untuk pembantu pengarah acara yang berada di studio bersama–sama kameramen. Pengaruh acara dan kemeramen masing-masing berada pada ruang terpisah. Meskipun perintah pengarah acara pada para kameramen dapat langsung lewat headphone, dalam hal-hal tertentu perlu petunjuk. Pemberian petunjuk dari pengarah acara itu dilalukan asko.
Astrada : Asisten Sutradara, pembantu sutradara.
Auditif : Berkenaan dengan pendengar.
Auditorium : Tempat para penonton duduk.
Babak : Satu kesatuan waktu dan tempat dalam sebuah drama.
Backstage : Balik panggung, ruangan yang terletak di balik aktor-aktris bermain.
Bahasa Drama : Segenap peralatan dan simbol yang dimanfaatkan drama, misalnya: akting adalah salah satu dari bahasa drama panggung.
B C U : Big close Up. Gambar film atau televisi dalam ukuran besar, untuk menonjolkan obyek. Misalnya : pengambilan mata yang memancarkan kebencian dll.
B G : Background = latar belakang.
Bloking : pengelompokan, kedudukan seorang aktor dimana dia sedang berada.
Bombastis : Omong kosong, yang dimaksud disini adalah yang berlebih-lebihan (over).
Business : Kesibukan kecil untuk menghidupkan suasana perasaan. Misalnya : orang berfikir keras, terus menerus merokok. Kegiatan terus menerus merokok merupakan business.
Camera : Alat pengambil gambar, alat mengambil serupakan obyek.
Cameramen : Orang yang melakukan pekerjaan mengambil serupakan obyek untuk film atau TV.
Casting : Memilih para pemain sesuai tokoh dalam naskah/scenario yang dimainkan.
Central Idea : Pikiran pokok. Sering dipandang kata lain tema.
Central of Interest : Pusat perhatian. Benda atau peran yang harus menonjol karena menjadi pusat perhatian dalam satu adengan.
Collective art : Nama untuk drama, karena drama merupakan kesenian yang untuk menampilkannya memerlukan keterlibatan orang banyak, memerlukan gotong royong, kemudian disebut collektive art.
Crossing : Langkah melintasi bentengan area permainan (silang).
C U (Close Up) : Gambar ukuran besar untuk foto, film, dan televisi. Misal seorang diambil dari bawah ke atas.
C u e (baca kyu) : Kata terakhir dalam dialog drama. Juga berarti sebagai isyarat bagi aktor /aktris atau pekerja yang lain (penata lampu, penata suara, dll) untuk memulai kegiatan.
C u t (baca kat) : Memenggal, memotong, dalam film atau TV berupa pemotongan gambar secara tajam. Perpindahan gambar dengan tajam diputus. Dalam latihan drama atau sewaktu shooting film. Cut berarti dihentikannya kegiatan yang tengah berjalan.
Cut to cut : Pengambilan gambar sepotong-potong secara tajam.
Curve Movement : Melangkah membentuk garis lengkung.
Dekorasi : Pemandangan tempat akting para pemain. Terletak pada bagian belakang layar.
Dialog : Percakapan yang dilakukan oleh dua orang / lebih.
Diksi : gaya (lagu) bicara.
Dilettente : Penggemar kesenian, tidak penuh kesungguhan.
Direction : Arah, dalam skenario berupa kata-kata yang terdapat didalam tanda kurung, dicetak miring atau tebal.
Dissolve : Pergantian gambar secara berangsur-angsur. Pergantian gambar (suara) dari kamera satu pada kamera lain dengan lambat arti berangsur-angsur beralih pada…… Diss. Out berangsur-angsur lenyap. Diss… in berarti berangsur-angsur dicampur dengan ……
Downstage : Langkah mendekati penonton. Atau menurut istilah drama : melangkah ke bawah.
Dramatic person : Para peran.
Dramaturgi : Pengetahuan tentang drama.
Driving Force : Tenaga penggerak. Biasanya ada kaitannya Dengan sturuktur skenario dan mempunyai makna sinonim dengan tema.
Dubbing : Pengisian suara oleh seorang aktor dalam bentuk dialog. Dubber, orang yang melakukan dubbing.
Dummy : Orang-orangan, bukan orang yang sesungguhnya.
Duration : Lamanya pertunjukan
Echo : Suara menggema, biasanya untuk menampilkan warna suara hantu.
Eksistensi : Keberadaan.
Epiloog : Kata penutup yang mengakhiri suatu pementasan lakon drama.
Eksistensialisme : Aliran falsafah yang mempertanyakan keberadaan manusia. Jiwa ataukah keadaan yang menentukan nilai manusia.
Ekspresi : Ungkapan, pernyataan, raut muka.
Ekspresionisme : Aliran dalam kesenian yang lebih mengandalkan gerak spontanitas perasaan.
E L S (Extreem Long : Pengambilan gambar jarak jauh. Dalam gambar
Shot ) nampak seluruh badan pemain dengan dekorasi lengkap.
Empathy : Kemampuan jiwa dalam menempatkan diri sebagai orang lain.
Ensemble : Keseimbangan musik atau irama, group musik pelajar.
Estetis : Memiliki sifat indah.
Eksposition : Pemaparan. Dalam skenario merupakan bagian awal dimana penonton mulai memperoleh jawab pertanyaan sekitar dimana, kapan, siapa dan bagaimana.
Ext. (singk. Exterior) : Di luar ruangan, di tempat terbuka.
Extrovert. : Sikap jiwa yang lebih cenderung terpengaruh
hal-hal diluar diri.
Fade : Lenyap, hilang warnanya, fade in, masuk pelan-pelan. Fade out, lenyap perlahan-lahan. Dalam screenplay atau TV-scrift, fade merupakan tanda dimulai dan berakhirnya suatu babak. Dalam bentuk gambar, memudarnya warna pada fade lebih cepat dibanding dengan dissolve. Istilah ini juga dipakai untuk suara.
Farce : Drama banyolan.
Figuran : Pemain tidak penting.
Footlamp : Lampu pentas yang terdapat dibibir pentas.
Fragment : Penanggalan, bagian.
F S (Full shot) : Pengambilan gambar film/TV dimana para pemain terlihat seluruh badan.
Filter : terdengar seperti dalam pesawat telepon. Filter dan echo banyak dipergunakan untuk menampilkan pikiran (di panggung solileki) atau untuk suara hantu.
Gaya : Sikap jiwa.
Genius : Orang yang memiliki bakat dan kemampuan luar biasa.
Gesture : Gerak tangan.
Goal : tujuan, dalam tekhnik mengarang sinonim dengan tema.
GR (General Rehearsal) : Latihan bersih, Gladi resik, Latihan terakhir
sebelum pementasan sesungguhnya.
Hairlamp : Lampu yang berderet diatas kepala pera pemain sewaktu berakting.
Handsprop : Peralatan tangan yang berguna untuk akting. Misalnya sapu tangan, korek api, tongkat dan sebagainya.
Hukum Bermain : Kaidah-kaidah yang harus dipenuhi dalam berdrama. Misalnya : apa dan siapa yang menjadi centre of interest harus ditonjolkan agar penonton dapat menangkap dengan secara benar.
Hukum Drama : Ketentuan–ketentuan yang harus dipatuhi dalam bermain drama. Misalnya: pemain perlu ber make-up agar tidak pucat karena sekian kilowatt lampu pentas disamping karena pertimbangan perwatakan
Hunting : Berburu. Dalam dunia jurnalistik berarti mencari berita. Dunia film atau televisi berarti mencari lokasi dan sebagainya.
Idealisme : Doktrin falsafah bahwa idea atau pikiran merupakan kenyataan utama. Dalam dunia etika, idealisme merupakan pengabdian setia pada cita-cita moral.
Identifikasi : Kesamaan.
Ilusi : Maya, khayal.
Imajinasi : Fantasi, angan-angan,daya khayal.
Improsionisme : Aliran kesenian yang mau menangkap kesan beberapa bagian dalam satu saat.
Improvisasi : Acting tanpa dipersiapkan terlebih dulu.
Individual art : Seni perseorangan, seni khususi.
Initial Incident : Peristiwa pengarang yang menjadi tulang punggung skenario.
In Scene : Terlihat dalam adegan, memasuki pentas.
Inspirasi : Rangsangan
Int. (interior) : didalam ruangan.
Interprestasi : Penafsiran.
Interovert : Sikap jiwa yang selalu memusatkan pikiran pada diri sendiri.
Jumping : Lompat. Akting pemain yang tidak konsisten antara satu adengan sebelumnya akibat tenggang waktu shooting.
Klasik : Mutunya dianggap sangat baik; berkenaan dengan zaman Yunani purba dan Romawi.
Klasisisme : Gaya klasik.
Knee Shot : Pengambilan gambar film/TV seukuran lutut sampai kepala.
Komposisi : Susunan. Dalam dunia musik berarti gubahan, ciptaan, opus.
Konsep : idea, pengertian.
Lafadz : ucapan.
Latihan dasar : Latihan utama yang paling awal dan harus ditempuh berkenaan dengan peralatan akting. Tujuannya agar alat akting (tubuh, suara, perasaan, pikiran) jadi peka.
Life on Air : Istilah televisi untuk siaran langsung. Disiarkan tanpa terlebih dahulu direkam.
Lighting : Pencahayaan, tata cahaya.
LS (Long Shot) : Pengambilan gambar untuk seluruh badan pemain dengan sebagian dekorasi.
MCU (Medium- : Pengambilan gambar dalan ukuran dari dada
Close Up) hingga kepala.
Mimik : Gerak wajah.
Monolog : Pertunjukan drama dilakukan oleh seseorang. Dialog yang diucapkan pada diri sendiri.
Mood Adegan : Suasana dan perasaan menonjol yang terdapat pada satu adegan.
Movement : Gerakan, lebih ditekankan pada langkah-langkah dipentas. Gerakan tangan bukannya disebut movement.
Movement Script : Pola bloking
Muatan emosi : Perasaan yang tersimpan dalam dialog, movement, adegan dan sebagainya.
Narasi : Uraian, penderitaan, pemaparan.
Naturalisme : Doktrim yang menyatakan bahwa semua realitas muncul dibawah hukum alam.
Neo-Klasisisme : Klasisisme baru.
Off Stage : Di luar arena permainan, meninggalkan pentas atau panggung.
On Stage : Kebalikan Off Stage.
OS (Out of Scene) : Tidak tampak orangnya.
Over Acting : Gerakannya berlebih-lebihan.
Overlap : Saling menumpuk. Istilah untuk bloking, suara dan sebagainya.
Out : Cepat berhenti.
Out of frame : Istilah untuk film/TV, semaksud dengan OS. Keluar dari frame pantomime.
Pantomime : Seni pertunjukan yang memaparkan kisah berdasarkan bahasa isyarat. Tanpa kata. Pantomimst. Pemain pantomime.
Partisan : Pejoang.
PD (Producer- : Istilah untuk pengarah acara pada televisi.
Director) Belakangan pengarah acara tidak lagi melakukan tugas-tugas sebagai produser.
Penata busana : Orang yang bertanggung jawab tentang pakaian yang dipergunakan dalam pementasan, baik tentang model, warna dan sebagainya.
Penata Rias : Orang yang bertanggung jawab tentang memake up ? Rias para pemain yang akan berpentas/bermain.
Pekerja Dekorasi : Para pekerja yang menyiapkan dekorasi.
Peran : Tokoh perwatakan.
Perencana Panggung : Orang yang membuat rencana panggung
Pimpinan Panggung : stage menager, orang yang bertanggung jawab atas kelancaran kerja panggung pada waktu pementasan.
Play : Naskah, senario (skenario)
Playing Area : Daerah permainan
Playing Ground : Playing area, Scenario writer.
Playwright : Pengarang drama.
Playwriter : Playwright, scenario writer.
Plot : Bagan, kerangka kejadian terjalin dalam rangkaian sebab akibat.
Premise : Tema, driving force, aim, goal
Producer : Pimpinan yang membawahi perangkat andministratif suatu pementasan, bertanggung jawab atas pembiayaan dengan segenap kaitannya. Disingkat pimpro.
Progresi : Pengembangan emosi dalam akting.
Property : Perlangkapan pementasan
Prolog : Kata pendahuluan dalam suatu lakon drama sebagai pengantar tentang lakon yang disajikan nanti kepada penonton.
Protagonis : Tokoh utama dalam skenario
Projeksi : Penonjolan.
Realisme : Aliran dalam kesenian sebagai penyanggahan terhadap romantisme.
Rekreasi : Refresing, penyegaran, penghiburan.
Re-kreasi : penciptaan kembali, menghidupkan kembali.
Respons : tanggapan, reaski.
Retake : Istilah film/TV untuk pengambilan kembali dari shooting terhadap objek yang sama.
Romantisme : Aliran yang melebih-lebihkan peranan perasaan dan khayal. Lebih menekankan pada masalah-masalah supranatural dan misterius sebagai bagian-bagian penting dari keberadaan totalitas.
Root idea : Premise, tema.
Round theatre : Teater arena.
Satire : Drama karikatur sebagai sindiran.
Scene : Adegan.
Setting : Pemandangan tempat bermain.
Sedewise : Zigzag, salah satu bentuk movement.
Silant : Diam, istilah film/TV saat akan berlangsungnya shooting.
Simbolisme : Aliran yang lahir sebagai perlawanan terhadap realisme. Aliran kesenian yang tidak mau berterang-terangan di dalam mengungkapkan sesuatu.
Souffler : Pembisik terhadap pemain yang lupa teks.
Sound effect : Bunyi-bunyian yang diperlukan dalam pementasan.
Space : Jarak.
Statis : Diam tidak bergerak
Standby : Siap
Speech : Ucapan.
Spotlight : Lampu corong, lampu pemusat pada bagian pentas.
Stright movement : Bentuk movement lurus, langsung.
Struktur naskah : Bangunan naskah, susunan naskah.
Struktur Skenario : Struktur naskah, dengan unsur-unsur plot, perwatakan, tema dialog, action, konflik, klimaks, krisis.
Sublim : Luhur.
Sub-plot : Plot pengiring, plot disamping plot utama.
Surialisme : Aliran yang menggambarkan dunia dibawah sadar dan impian.
Sutradara : Pengatur laku pemain.
Sinopsis : Ringkasan cerita.
Synthetic art : Seni campuran. Istilah untuk menamai drama disebabkan kenyataan bahwa drama merupakan perpaduan berbagai cabang seni.
Takaran emosi : Dalam memproyeksikan perwatakan maka akting diukur dari muatan emosinya. Kalau muatan emosinya dalam suatu adengan kecil, maka diungkapkan dengan takaran kecil. Milsanya : menyatakan duka. Untuk ini tidak perlu mengembangkan tangan dengan lebar. Sebaliknya dengan kemarahan yang dalam beberapa hal menuntut pengembangan tangan dalam takaran lebar.
Teaser : Masalah, tugas genting. Dalam bentuk senario film/TV, berujud pelontaran masalah tanpa jawab diletakkan dibagian awal, dimaksudkan untuk memikat penonton. Panjang teaser tak lebih dari 5 menit. Selesai teaser disusul judul cerita berikut credit tittle yang lain.
Teatral : Menanjak, seperti sandiwara.
Tilt Down : Gerakan kamera yang hanya bagian lensanya saja yang dianggunkan kebawah.
Tilt Up : Kebalikan Tilt Down.
Topping : Upaya penanjakan emosi antara satu dua pemain, mengucapkan kata dengan nada lebih tinggi dari yang sebelumnya.
Tritagonis : Tokoh ketiga setelah antagonis dan protagonis.
Tune : Pembukaan, musik tune = musik pembukaan.
Two shot : pengambilan gambar film atau TV untuk dua tokoh.
Upstage : Movement yang menjauhi penonton atau bergerak keatas.
Visi : Pandangan.
Visual : yang kelihatan .
Versi : Tinjauan, terjemahan.
Vokal : suara yang kita ucapkan.
Volume : Isi, banyaknya.
VTR (Video tape : Rekaman gambar untuk televisi
Record).
X-fade : Suatu suara yang menjadi lunak bercampur dengan suara yang menyusul menggantikannya. Contoh : jerit dan tangis ibu x-fade.pada jerit kereta api.
Zoom : Tiba-tiba terbalik. Zoom out, gambar besar berbalik menjadi gambar kecil karena jaraknya tambah jauh. Zoom in, sebaliknya.

_____________________________________________________________

DAFTAR BACAAN

1. A. ADJIB HAMZAH. Pengantar Bermain Drama, Rosda Bandung, Bandung 1985.

2. A.J SUTRISMAN dan LOREN E. TAYLOR, Drama dan Teater Remaja Hanindita Graha Widya, Yogya Maret 1988.

3. ADHY ASMARA DR., Apresiasi Drama, Nur Cahaya, Yogya 1983.

4. Drs. TJOKROATMOJO DKK., Pendidi Drama, Usaha Nas.
Surabaya 1985.

5. LITZ PISK Terjemahan FRITZ G. SCHADT, Aktor Dan Tubuhnya, Yayasan Citra, Jakarta 1985.

6. R.H. PRASMADJI, BA. Teknik Menyutradarai Drama Konvensional, Balai Pustaka, Jakarta 1984.

7. RMA. HARYMAWAN, Dramaturgi, Rosda Bandung, Bandung 1988.

8. LEE R. BOBKER, Terjemahan M.D.ALIEFF. Akting untuk Film, Yayasan citra, Jakarta 1983.

____________________________________________________________

BIODATA PENYUSUN

Lelaki ini punya nama MUHABBA PUTRA lahir di Surabaya tanggal 28 Pebruari 1970. Lingkungan kehidupan orang tuanya yang mengutamakan kesederhanaan. Ayahnya seorang Sarjana yang kini menjabat sebagai kepala sekolah negeri di Surabaya dan ibu adalah seorang wiraswasta.
Ia sendiri mulai menekuni dunia teater dari lingkungan teater sekolahan yakni SMP tahun 1986 hingga SMA tahun 1989. sebernanya teater baginya hanya sekedar hobby saja.
Kenapa demikian ? karena ia pernah punya cita-cita ingin menempatkan titel dokter di depan namanya kelak. Tapi jauh dari kenyataan, ia hanya sempat kuliah di Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya JURUSAN Matematika – MIPA, setahun kemudian keluar kuliah. Ia ingin berbalik haluan ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ-LPKJ) tahun 1990 jurusan teater. Disinilah ia mengenyam pendidikan tentang perteateran untuk membentuknya sebagai profesi tetap dalam dirinya kelak dan akhirnya telah menyelesaikan studinya tahun 1996.

Koleksi : teater_gress@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: