BUKTI KEIMANANKU

NASKAH DRAMA PANGGUNG
Karya 2006 : ABBAS MUSTAN BHANSALI

ADEGAN PERTAMA

DIAWALI DENGAN TARIAN INDIA YANG DIAMAINKAN OLEH TOKOH MASYITOH DAN TAIA, PUTRI FIR’AUN BESERTA PENGAWAL PUTRI ISTANA. BERAKHIRNYA TARIAN TERSEBUT MAKA TINGGALLAH MASYITOH DAN PUTRI TAIA YANG SALING BERCENGKRAMA.

PUTRI TAIA
Akh… Rasanya capek sekali ya ! Sudah lama aku tidak bersemangat. Padahal pagi ini aku akan bertemu dengan Pangeranku. Apakah penampilanku masih kelihatannya cantik ? Aku harus menjaga penampilanku agar tetap kelihatan cantik dimatanya. Karena Pangeranku selalu kurang puas menikmati kecantikanku selama ini.

MASYITOH
( MASYITOH diam saja termenung karena memikirkan sesuatu )

PUTRI TAIA
( Memanggilnya ) Masyitoh …! Masyitoh …!

MASYITOH
Iya, Tuan Putri. Ada apa ?

PUTRI TAIA
Kenapa kamu ? Tidak biasanya kamu seperti ini. Memangnya kenapa kamu ini ?
( MASYITOH tetap diam ) Sudahlah ?! Sekarang ambilkan cermin. Aku harus meyakinkan diriku agar tetap sedap dipandang matanya.

MASYITOH
Ini Tuan Putri. ( Memberikan cermin padanya )

PUTRI TAIA
( Kaget ) Hah … ! Rambutku kusut. Berantakan seperti ini. Masyitoh, cepat rapikan rambutku.

MASYITOH
Baik, Tuan Putri. ( Segera menyisir rambutnya sambil terkenang pada Si Bungsu ITAMAR yang ditinggal dirumah sedang sakit. Ketika itu pula sisir yang dipegangnya jatuh ) Demi Allah, celakalah Fir’aun …!

PUTRI TAIA
Apa katamu barusan ? Ayahanda celaka ? Apa maksudmu ? Dan apa lagi katamu ? Allah ? Demi Allah katamu ? Siapakah Allah itu ?

MASYITOH
Allah adah Tuhan yang Maha Kuasa. Yang menciptakan Langit, Bumi beserta segala isinya.

PUTRI TAIA
Bukankah Baginda Tuhan yang maha Kuasa ? Bukankah ayahanda yang Maha Kuasa didunia ini ? Fir’aun ?! Ya, bagindalah Tuhan segala makhluk yang hidup dialam ini. Bagindalah yang menjadi pujaan seluruh manusia. Dialah Tuhan ! Tetapi kau, mengapa kenapa kau menyebut Tuhan kepada yang lain. Kepada Allah ?

MASYITOH
Kekuasaan ayahanda tuan putri adalah pemberian Yang Maha Kuasa, yaitu Allah adanya. Tiada Tuhan selain Allah. Karena Allah yang Maha Esa.

PUTRI TAIA
Kamu janmgan sekali-kali berani menghina ayahanda dengan menyebut yang lain. Bertuhan kepada yang lain. Bukan kepada baginda. Berani pula mulutmu mengatakan baginda celaka. Sungguh kau kurang ajar ! Tidakkah kau tahu bahwa hidup – matimu terletak atas telapak tangan baginda. Bagaimana jadinya kalau baginda tahu apa yang kau ucapkan. Niscaya kau akan mendapatkan hukuman yang sangat berat.

MASYITOH
Tuan Putri, adapun baginda, bukan lah Tuhan yang Maha Kuasa. Adapun baginda tidak ada bedanya dengan hamba. Sesama makhluk dihadapan Allah.

PUTRI TAIA
Apa katamu ? Baginda sama denganmu ! Kau itu budak hina. Sembarangan kau berkata. Alangkah akan murkanya baginda jikalau mendengar apa yang kau ucapakan dari mulut kotormu yang tak punya malu. Sekali lagi aku tanya. Benarkah kau bertuhan kepada yang lain ? Bukan ayahanda kami ? Jawab ?!

MASYITOH
Benar sekali. Tuhan hamba bukanlah sesama manusia seperti hamba, melainkan Allah, Tuhan yang tiada bandingnya. Tuhan yang Maha Esa dan Kekal Abadi. Tidak beranak dan tidak diperanakkan.

PUTRI TAIA
Lancang sekali ucapanmu. Bagaimana kalau perkataanmu itu kami sampaikan kepada baginda ? Beranikah kau ? ( Masyitoh tidak menjawab ) Apabila kau tidak berani. Nanti perkataanmu itu tidak kami sampaikan kepada baginda asalkan kau harus segera menyatakan tiada lain Tuhanmu kecuali baginda. Tinggalkanlah Allah, Tuhanmu itu. Lalu bertuhanlah kau kepada ayahanda, Fir’aun, Tuhan yang Maha Kuasa.

MASYITOH
Hamba tidaklah berpindah keyakinan. Tidak akan menukarkan Tuhan yang menjadi sembahan hamba. Allahlah yang menjadi Tuhan seluruh bani Israil sejak zaman dahulu sebelum mengembara ke tanah Mesir.

PUTRI TAIA
Jadi kau sama sekali tidak takut apabila ucapanmu ini kami sampaikan kepada baginda ?!

MASYITOH
Tidak. Silahkan saja tuan putri menghaturkan apa yang hamba katakan kepada baginda. Namun hamba tidak akan takut karena hamba mengatakan kebenaran adanya.

PUTRI TAIA
Sekarang tinggalkan tempat ini. Tunggu saja dirumah karena bencana akan datang menjemputmu.
( Masyitoh pergi ) Aku tidak bisa tinggal diam. Ini harus segera kusampaikan kepada ayahanda agar secepatnya ditindak.

ADEGAN KEDUA

MASYITOH KELIHATAN SEDANG MENGGENDONG ITAMAR, ANAKNYA YANG MASIH BAYI. SEBENTAR-BENTAR IA MELIHAT KEARAH JALAN, MENGHARAP OBEDE, SUAMINYA PULANG. HATINYA TIDAK TENTRAM DAN KHAWATIR. TERLEBIH ITAMAR SERING MENANGIS KARENA SAKIT.

MASYITOH
Diamlah, sayang, diamlah. Sudahlah. Jangan menangis, sebentar lagi ayah pulang. Diamlah, sayang !

OBED
Bagaimana keadaanya ? Apakah penyakitnya berkurang ?

MASYITOH
Bukannya sembuh malah makin parah saja. Sejak tadi tiada henti-hentinya menangis.

OBED
Panas sekali. Dan tubuhnya kelihatan kurus. Padahal sebelum sakit ia sangat gemuk dan lincah.

MASYITOH
Kaupun sekarang kelihatan sangat kurus.

OBED
Beginilah keadaanku. Pekerjaan sangat berat. Makanan amat kurang. Tidurpun tidak nyenyak. Tidak punya kesempatan beristirahat barang sejenak.

MASYITOH
Bagaimana gerangan Piramid ? Masih lama lagikah akan selesai ?

OBED
Wah ! Masih lama lagi ! Entah kapan baru akan selesai.Padahal para pekerja tidak terurus, sudah lesu kelelahan. Tadi ada belasan orang yang pingsan…Pekerjaan berat, ditambah pula oleh siksaan yang tak tertanggungkan. Cemeti selalu melecut punggung mereka. Padahal mereka bukannya malas, melainkan sejenak hendak meluruskan pinggang, menghirup udara atau menghapus keringat. Si Mandor seakan-akan tak berhati, mentang-mentang berlainan bangsa. Minumpun tidak diperkenankan. Karena lantaran tidak tahan lagi menanggung siksa, HEBERON dan KORAH naik pitam mengamuk melawan Mandor. Akhirnya dikepung ………

MASYITOH
Kemudian bagaimana ?

OBED
Dua-duanya ditangkap. HEBERON luka berat, sebab dadanya tersuduk tombak. Sedangkan KORAH kakinya patah.

MASYITOH
Ya, Allah ! ( ITAMAR menagis lagi )

OBED
Diamlah, sayang, diamlah. Ayah sudah pulang sekarang. Lekaslah sembuh. Lekaslah sehat. Akupun tadi hampir saja mati tertimpa batu. Mungkin karena ikatannya kurang kuat. Batu itu terlepas ketika diangkut.

Tepat menuju kearahku. Untung saja aku cepat melompat mengelak. Kalau tidak keburu menghindar, entahlah……

SITERI
Ibu, BAPA SIMEON akan datang kemari. Tetapi masih ada keperluan lain dahulu sebentar. Nanti kemari belakangan. ( MASYITOH hanya mengangguk )

OBED
Untuk apa BAPA SIMEON diminta datang ? Dan kelihatannya kau banyak termenung, mengapa ? Apa yang merisaukan hatimu ? Nampak lain daripada biasanya. Masyitoh, kalau kau mendapat kesusahan atau bencana, niscaya suamimulah yang paling dahuluharus kau ajak berunding. Aku berhak mendengarkan persoalan yang menyebabkan dirimu menjadi bingung. Tapi kenapa kau tidak berterus terang saja mengatakan persoalan ini kepadaku. Suamimu yang sudah puluhan tahun mendapingimu. Malah kau meminta Bapa Simeon datang kemari ?! Sebenarnya ada apa ini ?

MASYITOH
Bapa Simeon diminta datang kemari karena anak ini sakit.

OBED
Apa hanya lantaran ITAMAR sakit. Kemudian Bapa Simeon diundang datang kerumah kita. Aku tetap tidak yakin. Pasti kau sedang dirundung masalah yang memberatkan hatimu. Apa kau tidak percaya denganku ? Katakan dengan jujur. Dan jangan kau sembunyikan masalah ini.

MASYITOH
SITERI, pergilah keluar. Bermainlah dengan kawan-kawanmu disana. Kalau nanti Bapa Simeon datang, beritahu ibu, yah ! ( SITERI langsung pergi ) Memang bukan hanya lantaran si Bungsu sakit semata. Tapi masalah yang semalam aku ceitakan padamu itu selalu menghantuiku selama ini.

OBED
Kalau itu yang menjadi soal. Kenapa kau masih merasa bimbang dan khawatir ? Aku kan sudah bilang bahwa apa yang kau ucapkan kepada tuan putri itu semuanya benar. Tidak mungkin bisa dihapus atau dijilat kembali. Seumpama anak panah, ia sudah dilepaskan dari busurnya, tak mungkin terkejar kembali. Kita harus menanggung akibatnya. Dan aku rasa meski Bapa Simeon datang sekalipun, ia takkan dapat berbuat banyak.

MASYITOH
Mudah-mudahan saja oleh pertolongan dan nasehatnya, ketakutanku menjadi sirna. Semoga tidak akan menimbulkan bencana bagi seluruh bani israil. Ini semua salahku !

OBED
Kau tidak bersalah. Sebab pendirian yang kau yakini dan kau sampaikan kepada tuan putri itu bukan hanya pendirian dan keyakinanmu semata. Melainkan keyakinan seluruh keturunan Israil.

MASYITOH
Aku merasa bersalah lantaran sudah tidak hati-hati berbicara, sehingga mungkin membawa bencana kepada semua orang.

OBED
Bencana itu belum lagi tiba. Karena itu tidak ada gunanya disesali. Sebagai orang yang beriman, tak ada lagi yang harus kita tegakkan dan kita bela kecuali Kebenaran Allah.
SITERI
Ibu, Bapa Simeon datang.

MASYITOH
Selamat datang, Bapa Simeon. Terima kasih karena Bapa sudi datang ke gubuk kami ini.

BAPA SIMEON
Apa kabar ? Mengapa si bungsu ini …siapa namanya ?

MASYITOH
Itamar

BAPA SIMEON
Ya, Itamar. Maklumlah sudah tua, sering gampang lupa sekarang. Lagipula terlalu banyak cucu yang mesti dihafal namanya. Kenapa sekarang, sakit panas ?

MASYITOH
Ya, sudah tiga hari ini. Penyakitnya belum terobati. Malah panasnya semakin menjadi. Tidak turun-turun.

BAPA SIMEON
Ah, tak apa-apa. Mari aku obati supaya sembuh. ( Sedang mengobati ) Sebentar lagi sembuh, Insya Allah, jangan khawatir. Nah, lihat. Ia menangis sekarang. Tentu telah kembali semangatnya. Segeralah sehat, sayangku. Apa kabar Obed ?
OBED
Baik saja, Bapa.

BAPA SIMEON
Tapi kenapa nampakya berlaianan dari biasa ? Seakan-akan ada yang tidak baik ? Ada apa sebenarnya ?

OBED
Memang betul, Bapa. Istri saya sedang bermasalah yang menurutnya akan membawa malapetaka bagi keluarga maupun sampai ke bani israil.

BAPA SIMEON
Kanapa sampai begitu ? Bukankah kehidupanmu tenang tentram ? Adapun anak ini nantipun akan segera sembuh. Sedangkan pekerjaanmu kelihatannya cukup baik.

OBED
Tapi pekerjaan buat saya sangat memprihatinkan.Penuh siksaan dengan mendapat tugas manatah dan mengangkat batu untuk membangun Piramid. Padahal hari demikian panas. Tak sejenakpun dapat melindungkan dari terik matahari yang membakar

AMRAM
Memang demikian nasib kita. Rakyat kecil. Memang buat apa nama kita terdaftar oleh pemerintah apabila bukan untuk dipekerjakan agar menyumbangkan kerja & tenaga ?

NADAB
Juga untuk menyumbangkan pajak. Bukankah dua dari setiap tiga suap yang kita makan, harus dipersembahkan untuk kepentingan mendirikan Piramid ?

OBED
Menurut kepercayaan orang Mesir, bukankah Piramid itu memang perlu serta sangat dibutuhkan, agar baginda Fir’aun langgeng abadi?

BAPA SIMEON
Betul. Supaya hidupnya abadi dan arwahnya tidak terlunta-lunta, maka tubuhnya harus disimpan baik-baik, jangan sampai rusak.

NADAB
Apapun begitu, boleh saja.Tetapi hendaknya jangan sampai memeras orang lain hingga tak sempat bernafas. Rakyat kecil ditindas, diperas tenaga serta hartanya. Lebih-lebih kita, keturunan Israil.

AMRAM
Hssst ! Janganlah gegabah berbicara, dindingpun bertelinga.

NADAB
Yang sekarang berada disini, bukankah hanya antara kita saja. Mustahillah agaknya apabila ada diantara kita yang sampai hati menghianati saudaranya sendiri sesama keturunan Israil.

Bersambung …

Koleksi : teater_gress@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: