Arsip untuk ‘Puisi’ Kategori

SURABAYA AJARI AKU TENTANG BENAR

Juni 13, 2008

Puisi untuk Lomba Guru SMP & SMA Se Jawa Timur
Balai Bahasa Surabaya bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Daerah Kota Blitar pada tanggal 17 – 18 Mei 2008
Juara I : Bapak Muhammad Abduh Abbas (SMPN 2 Menganti Kab. Gresik)

SURABAYA AJARI AKU TENTANG BENAR
Karya : Aming Aminoedin

Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
Tanpa harus pandai menjilat, apalagi berlaku bejat
menebar maksiat dengan topeng-topeng lampu gemerlap.
Ajari aku tidak angkuh
Apalagi memaksa kehendak bersikukuh
hanya lantaran sebentuk kursi yang kian lama kian rapuh

Surabaya, ajari aku bicara apa adanya
Jangan ajari aku gampang lupa, gampang berdusta
Jangan pula ajari aku dan warga kota,
naik meja seperti orang-orang dewan di Jakarta.

Surabaya, ajari aku jadi wakil rakyat
Lebih banyak menimang dan menimbang hati nurani
Membuat kata putus benar-benar manusiawi
Menjalankan program dengan kendaraan hati nurani
Surabaya ajari aku. Ajari aku.
Ajari aku jadi wakil rakyat dan pejabat
Tanpa harus berebut, apalagi saling sikut
yang berujung rakyat kian melarat kian kesrakat
menatap hidup kian jumpalitan di ujung abad
tanpa ada ujung, tanpa ada juntrung.

Surabaya memang boleh berdandan
Bila malam lampu-lampu iklan kian warna-warni
Siang, jalanan tertib kendaraan berpolusi
Senja meremang, mentarinya seindah pagi
di antara gedung tua dan Tugu Pahlawan kita.

Surabaya ajari aku. Ajari aku bicara apa adanya
Sebab suara rakyat adalah suara Tuhan
Kau harus kian sadar bahwa berkata harus benar
dan suara rakyat adalah suara kebenaran tak terbantahkan
Tak terbantahkan !

Surabaya, 21 November 2005

Koleksi : teater_gress@yahoo.com

ISLAM ADALAH

Juni 13, 2008

Islam agamaku, nomor satu di dunia
Islam benderaku, berkibar dimana – mana
Islam tempat ibadahku, mewah bagai istana
Islam tempat sekolahku, tak kalah dengan lainnya
Islam sorbanku
Islam sajadahku
Islam kitabku
Islam podiumku, kelas eksklusif yang mengubah cara dunia memandangku
Tempat aku menusuk kanan – kiri
Islam media massaku, gaya komunikasi islami masa kini
Tempat aku menikam sana – sini
Islam organisasiku
Islam perusahaanku
Islam yayasanku
Islam instansiku, menara dengan seribu pengeras suara
Islam muktamarku, forum hiruk – pikuk tiada tara
Islam bursaku
Islam warungku, hanya menjual makanan sorgawi
Islam supermarketku, melayani segala keperluan manusiawi
Islam makananku
Islam teaterku, menampilkan karakter – karakter suci
Islam festivalku, memeriahkan hari – hari mati
Islam kausku
Islam pentasku
Islam seminarku, membahas semua
Islam upacaraku, menyambut segala
Islam puisiku, menyanyikan apa
Tuhan, Islamkah aku ?

Koleksi : teater_gress@yahoo.com

AKU, INDONESIA

Juni 13, 2008

KARYA : BENEDIKTA ATIKA PRASTYAMITA

LIHAT DIRIKU
BERDIRI MENOPANG SEMANGAT YANG LURUH
IZINKAN AKU
UNTUK BIARKAN SEMUA MIMPI INI JATUH

TAK SANGGUP
KUTAHAN SEMUA DENDAM YANG BERDEGUP
MERUSAK SEMUA AKAL SEHATKU
HANCURKAN SISA – SISA HIDUPKU

HARUSKAH AKU MENANGIS LAGI BANJIRI LADANG ?
HARUSKAH AKU BERGETAR LAGI GOYAHKAN KARANG ?

DULU SEMUA INDAH
SALING MENGISI DAN BERBAGI
DULU TAK RESAH
TAKUT DIHINA DAN DICACI

HANYA SAJA CERITA TINGGAL KENANGAN
SAAT WAKTU HARUS BERKILAH
SEMUA TAK LAGI MEMBAHAGIAKAN
SEMUANYA BERGANTI SUDAH

MATAHARI YANG HANGAT MENERANGI
SEKARANG MENYENGAT MENYAKITI

HUJAN YANG SEJUK MENYIRAMI
SEKARANG MARAH MENGGENANGI

AKU LELAH
BOSAN MEMBERI PERINGATAN
HARUSKAH SEMUA MUSNAH
UNTUK MEMBERIMU PENGERTIAN ?

HENTIKAN SEMUA USAHA PENGHIANATAN
HENTIKAN TINDAKAN PERPECAHAN

TAK DAPATKAH KAMU TERIKAT LAGI
TAK MAMPUKAH KAMU SATU KEMBALI

CUKUP AKU DIINJAK TAPAK DENDAMMU
CUKUP AKU DIBAKAR API AMARAHMU
CUKUP AKU DIGENANGI TANGIS PEDIHMU
CUKUP AKU DIHUJANI CACI BENCIMU

APA JADINYA JIKA AKU MEMBELAH DIRI
PISAHKAN SEMUA CITA DAN HATI
TAK ADA LAGI MERAH PUTIH
TAK ADA GARUDA TERBANG TINGGI

LIHAT DIRIKU
BERDIRI MENOPANG SEMANGAT YANG LURUH
IZINKAN AKU
UNTUK BIARKAN SEMUA MIMPI INI JATUH

Koleksi : teater_gress@yahoo.com

GAYA BUDAYA BETAWI

Juni 13, 2008

Karya : Muhabba Putra
Awal Juni 2004

PANTUN

Ambil mangga besar dicampur gula aren,
sungguh menawan enak rasanya,
pemuda bertubuh besar kuat lagi keren,
si Pitung pahlawan yang gagah namanya.

Sungguh menawan enak untuk makan di rumah,
ibarat laki bini punya kebon raya,
si Pitung pahlawan yang gagah bela golongan lemah,
kecuali Kompeni musuh pitung orang kaya.

Ibarat laki bini punya kebon raya lebat,
semua ilalang terlihat lenyap,
musuh Pitung orang kaya tamak yang hidupnya nyusahin rakyat,
ampe Kompeni bilang susah ditangkap.

Semua ilalang terlihat lenyap di ujung siang,
seakan – akan pilu tanpa penghuni,
susah ditangkap karena Pitung bisa ngilang,
matinya pun ame peluru emas pistol Kompeni.

________________________________________________________

SYAIR

Alkisah pendiri Batavia,
pemuda berasal dari Belanda,
asisten saudagar berlayar ke Nusantara,
pada Kompeni ia bekerja.

Jan Pieterzoon Coen nama yang asli,
julukan Mur Jangkung dengan pangkat saudagar tinggi,
kerajaan dagang besar ia bermimpi,
ingin dibentangkan di Nusantara menjadi koloni.

Alasan dagang demi kejayaan Belanda,
dengan memonopoli perniagaan Indonesia,
namun cita – citanya tak terlaksana,
hanya menjadi angan – angan belaka.

Niat Coen menciptakan Kolonisasi,
merampas pulau demi keselamatan VOC sendiri,
bersaing dengan Spanyol negara ia benci,
menyewa serdadu Jepang untuk melucuti.

Provinsialisme menjangkiti orang Belanda,
daerah rampasan dinamai daerah asal mereka,
hingga Batavia gelar untuk Jakarta,
sebagai benteng kemenangan jua.

Akhirnya riwayat tinggal kenangan,
tak berarti Coen punya kekuasaan,
meski banyak ia terima penghargaan,
maut menjemput di hari baan.

Koleksi : teater_gress@yahoo.com

RENUNGAN MALAM KEMERDEKAAN

Juni 13, 2008

KARYA 2004 : MUHABBA PUTRA

KEMERDEKAAN ADALAH KEBEBASAN
KEBEBASAN DARI SEGALA HIMPITAN YANG MENCEKAM
SIKSAAN DEMI SIKSAAN
SEMUANYA TAK MENGENAL ARTI KEMANUSIAAN

SEJARAH TELAH MENCATAT
MANUSIA YANG TIDAK PUNYA KEMANUSIAAN
LEBIH BEJAT DARI BINATANG
KARNA KEBUASAN MELEKAT DALAM DIRI

SEKIAN TAHUN LAMANYA
BANGSA KITA DIJAJAH OLEH PENJAJAH
YANG TIDAK PUNYA KATA SEDIKITPUN KASIH SAYANG
HANYA KEBENCIAN DAN KERAKUSAN
YANG MERASUKI OTAK-OTAK PENJAJAH

LIHAT … …
BUMI KITA INI PENUH DENGAN DARAH
DAN TETESAN AIR MATA BANGSA INDONESIA
YANG TIDAK PERNAH BERHENTI MENANGIS
HINGGA AIR MATA MENGERING
DENGAN TUBUH YANG MENGERING

BERPULUH–PULUH JIWA TERGELETAK TAK BERNYAWA
KELAPARAN … PENINDASAN … PENYIKSAAN …
YANG MENYELIMUTI BANGSA KITA
HINGGA BANGSA KITA INI TAK KUASA LAGI
MELAWAN SANG PENJAJAH YANG PENUH KUASA

59 TAHUN YANG LALU
JIWA-JIWA YANG MASIH TERSISA
MENYATU DENGAN SEMANGAT JUANG YANG TINGGI
MEMBELA TANAH AIR
DEMI MERAIH KEMENANGAN YANG SUCI

MESKI BAMBU RUNCING YANG BICARA
TAPI PARA PENJAJAH TELAH DIBUMI HANGUSKAN
DILUCUTI TANPA KATA=KATA
HINGGA PEKIKAN MERDEKA ADA DIMANA-MANA

SANG MERAH PUTIH BERKIBAR
DI LANGIT YANG BIRU
MENYUARAKAN KEMENANGAN BANGSA INDONESIA
ATAS JERIH PAYAH PARA PEJUANG
DAN KARUNIA ALLAH SANG PENCIPTA
TERIMA KASIH
YANG DAPAT KAMI UCAPKAN
JASA-JASAMU SUNGGUH BERARTI DALAM HIDUP INI
DAN AKAN SELALU KAMI KENANG SEPANJANG MASA

TAPI KINI
KITA TIDAK LAGI MERASAKAN
ARTI KEMERDEKAAN YANG SEBENARNYA
MERDEKA KARNA BEBAS DARI PENJAJAH
MERDEKA KARNA LEPAS DARI PENGUASA

KENAPA PENJAJAH BERUBAH BUDAYA
PENJAJAH-PENJAJAH KINI MASIH BERKELIARAN
DISEKITAR KITA
BANGSA INDONESIA TELAH DIJAJAH OLEH BANGSA SENDIRI
RAKYAT DIJAJAH OLEH PENGUASA

YAA ALLAH YAA TUHAN KAMI
TUNJUKKAN MAKNA KEMERDEKAAN YANG HAKIKI
KEMBALIKAN SEMANGAT JUANG
UNTUK MEMBANGUN BANGSA DAN NEGARA
INDONESIA YANG TERCINTA INI

YAA ALLAH
JANGANLAH BUMI INI DIKOTORI OLEH PENGUASA
DEMI KEPENTINGAN SEMATA
BERSIHKAN DAN SUCIKAN KEMBALI
BANGSA DAN NEGARA INDONESIA

ATAS NAMA BANGSA
KAMI BERSIMPUH MEMOHON KEBESARAN-MU
CIPTAKAN DAN KUATKAN
PERSATUAN KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

TENANGKAN JIWA BANGSA
UNTUK DAPAT MENIKMATI KEHIDUPAN INI
HANYA ENGKAULAH
HAMBAMU MEMANJATKAN DOA

ALLAH AKBAR … 3X
LAA HAULA WALAA KUUATA ILLAAH BILLAAH

Koleksi : teater_gress@yahoo.com

HARUM SEMERBAK NAMAMU

Juni 13, 2008

MUSIKALISASI PUISI
KARYA 2005: MUHABBA PUTRA

KELOMPOK KITA PUNYA NAMA
NAMANYA MAKIN KEREN
TERKENAL DIMANA-MANA
RISBA ITULAH NAMANYA
MENGISI KEHIDUPAN
GAMBAR PRILAKU UMAT ISLAM
RISBA
REMAJA ISLAM MASJID BAITURRAHMAN
JIWAMU MENGUAK DIANTARA REMAJA KINI
MELEKAT KE SUMSUM TULANG-TULANG MEREKA
LIHAT ! MEREKA BERGUMUL DENGAN SATU GAGASAN
SATU KEBULATAN TEKAD
DEMI KEMAJUAN UMAT ISLAM
MARI, SATUKAN SEGALA KEINGINAN
MARI, SATUKAN SEMUA KERUKUNAN
KAWAN, SAMBUT HARI INI DENGAN CERIA
JANGAN, KAU HIASI DENGAN PERMUSUHAN
OH TINGGALKANLAH SEMUA KEMAKSIATAN YANG ADA
LANGKAHKAN KAKIMU UNTUK SYIAR ISLAM
KUMANDANGKAN KALIMAT LAA ILAA HA ILLALLAH
JALAN MENUJU KEBENARAN ADA DIMATAMU
KINI JIHADMU DINANTIKAN
KIBARKAN BENDERA ORGANISASIMU DIMANA-MANA
SUARAKAN DENGAN RIBUAN PENGERAS SUARA
JANGAN KAU HENTIKAN KREATIFITASMU
RAMAIKAN HARI-HARI INI DENGAN SEMANGATMU
RISBA…RISBA…RISBA…
BERSATU CIPTAKAN UKHUWAH ISLAMIYAH
KAWAN TIADA HARI TANPA IMAN
RISBA INI ALAT DAKWAH KAWAN
KARNA KEBENARAN SUCINYA
JANGAN KAU RAGU DALAM PERJUANGAN
KAWAN HIDUP INI SEMENTARA
PERBANYAKLAH AMAL IBADAH
‘NTUK MENCAPAI KERIDLOANNYA
DALAM TUJUAN SELALU HIDUP KITA

Koleksi : teater_gress@yahoo.com

TERIAKAN LANGKAHMU

Juni 13, 2008

MUSIKALISASI PUISI

Karya 2003 : MUHABBA PUTRA

Angin kota menerpa wajah
Angin kota menerpa wajah
Angin kota menerpa wajah
Pagi telah menyapa
Isi Kehidupan
Gambar prilaku manusia

Jiwa manusia yang membentang
Tanpa batas dalamnya arti
Nampak nyata di kehidupan kini

Lihat, kotaku yang panas
Peluhnya menetes
Basahi bumi yang kering dan berdebu

Mari lupakan segala kepenatan
Mari lupakan semua kelelahan
Kawan sambut hari ini dengan ceria
Jangan kau hiasi dengan permusuhan
Oh lupakan semua kebencian yang ada

Tapi teriakan langkahmu semakin jadi
Suara lantang memecah riuh deru mesin
Itu mereka
Habisi saja
Hajar
Jangan kasih ampun
Parang, golok, lempengan baja dan kayu
Sampai kerikil-kerikil kecil
Jadi bekal pertemuan mereka
Meski seragam putih abu-abu melekat di tubuhnya

Apakah sikap ini yang kita agungkan ?
Dimana letak persahabatan ?
Kapan damainya ?

Kalau perang itu gampang
Tapi yang sulit
Jelas damainya
Bumi ini terisak
Menahan haru

“ Sudah tenang “ nyanyiannya menggema
Wahai dengarlah pembawa damai
“ Kami bisa terlelap sekarang
Damai …

KETIKA SHOLAT KAU LAKUKAN

Juni 13, 2008

Buah Karya : Emha Ainun Najib

Ketika Sholat kau lakukan
Oleh takbirmu, pintu langit, terkuakkan
Partikel udara dan ruang hampa bergetar
Bersama-sama mengucapkan, Allahu Akbar

Bacaan Al-Fatihah, dan Surah
Membuat kegelapan terbuka matanya
Setiap doa, dan pernyataan pasrah
Mem-ben-tang-kan jembatan ca-ha-ya

Tegak tubuh, Alif-Mu, mengakar ke pusat bumi
Ruku’, Lam badanmu, memandangi asal usul diri
Kemudian, Mim sujudmu, menangis
Di dalam cinta Allah, hati gerimis

Sujud, adalah satu-satunya hakikat hidup
Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup
Ilmu dan peradaban, takkan sampai
Kepada asal mula, setiap jiwa kembali

Maka Sholat adalah, kehidupan ini sendiri
Pergi sejauh-jauhnya, agar sampai kembali
Badan diperas, jiwa dipompa, tak terkira-kira
Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya

Sholat diatas sajadah cahaya
Melangkah perlahan-lahan, ke rumah rahasia
Rumah yang tak ada ruang, tak ada waktunya
Yang tak bisa dikisahkan, kepada siapa pun saja

Oleh-olehmu dari Sholat, adalah sinar wajah
Pancaran, yang tak terumuskan, oleh ilmu fisika
Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
Dadamu mencakrawala, seluas ‘arasy
Sembilan puluh sembilan

KUMPULAN PUISI ISLAM

Juni 13, 2008

DOA DALAM SYAIR

KASIH
KENALKAN AKU AKAN DOSA
AGAR AKU TAK TERSESAT

KASIH
LUPAKAN AKU AKAN INTAN PAHALA
AGAR AKU TAK LUPA DARATAN

KASIH
TUNJUKKAN AKU JALAN KE NERAKA
AGAR AKU TAK MENGARAH KE SANA

KASIH
CUMBUHLAH AKU DENGAN MESRA
DAN JANGAN KAU LEPASKAN
AGAR HATI KITA SEMAKIN DEKAT

OH … TUHAN, DENGARKAN DOA HAMBA.

____________________________________________________________

SEBUAH KERINDUAN

TUHAN
SETIAP KUBERDIRI DIATAS
PERMADANI SAJADAHKU
TERASA KUBERDIRI
DI HAMPARAN TERAS
ARASY-MU, SENDIRI
TIADA KASIH
TIADA KARIB YANG MENEMANI
HANYA DIRI, WAJAH
DAN KASIH-MU
YANG SELALU KURINDU
TIADA KENAL BATAS WAKTU

_____________________________________________________________

SATU DALAM SEGALA

ALLAAHU AHAD
KAU ADALAH SATU

SATU DALAM SIFAT
SATU DALAM DZAT
SATU DALAM JUMLAH
DAN SATU DALAM TINDAKAN

ALLAAHU AHAD

____________________________________________________________

DALAM PUISIKU

DALAM PUISI AKU MENYANYI
DALAM PUISI AKU BERDOA
DALAM PUISI AKU MENANGIS
KARNA CINTA
DALAM PUISI AKU MENJILAT
HATI SANG PENCIPTA
DALAM PUISI AKU PUN SHOLAT
BERBICARA DENGAN-NYA

____________________________________________________________

SANG PENCIPTA

IQRA’ – BACALAH
BACALAH ATAS NAMA TUHANMU
TUHAN YANG MENCIPTAKAN
ALAM SEMESTA
DENGAN SEGALA ISINYA
TUHAN ROBBIKU
ALLAH AZZA WAJALLA

____________________________________________________________

RAMADHAN

KINI DATANG KEMBALI
MENYAMBUT KAUM MUSLIMIN
UNTUK BEKAL JADI MUTTAQIN

RAMADHAN
KAULAH BULAN YANG SUCI
PENUH KEMULIAN
PENUH BAROKAH
PENUH MAGHFIROH
YANG MENGHANTARKAN KE SURGAWI

KUMPULAN PUISI CHAIRIL ANWAR

Juni 13, 2008

SIAP SEDIA
Kepada Angkatanku

Tanganmu nanti tegang kaku
Jantungmu nanti berdebar berhenti
Tubuhmu nanti mengeras batu
Tapi kami sederap mengganti
Terus memahat ini Tugu

Matamu nanti kaca saja
Mulutmu nanti habis bicara
Darahmu nanti mengalir berhenti
Tapi kami sederap mengganti
Terus berdaya ke Masyarakat Jaya

Suaramu nanti diam ditekan
Namamu nanti terbang hilang
Langkahmu nanti enggan ke depan
Tapi kami sederap mengganti
Bersatu maju, ke Kemenangan
Darah kami panas selama
Badan kami tertempa baja
Jiwa kami gagah perkasa
Kami akan mewarna di angkasa
Kami pembawa ke Bahgia Nyata

Kawan, kawan
Menepis segar angin terasa
Lalu menderu menyapu awan
Terus menembus surya cahaya
Memencar pencar ke penjuru segala
Riang menggelombang sawah dan hutan

Segala menyala-nyala !
Segala menyala-nyala !

Kawan, kawan
Dan kita bangkit dengan kesadaran
Mencucuk menerang hingga belulang
Kawan’ kawan
Kita mengayun pedang ke Dunia Terang.

____________________________________________________________

AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

___________________________________________________________

CATETAN TH. 1946

Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut,
Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai.
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut.
Kita – anjing diburu – hanya melihat sebahagian dari
sandiwara sekarang,
Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau
di ranjang,
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu,
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.
Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu.
Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu,
Kita memburu arti atau diserahkan pada anak lahir
sempat,
Karena itu jangan mengerdip; tatap dan penamu asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering se-
dikit mau basah !

____________________________________________________________

SENJA DI PELABUHAN KECIL
Buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tidak berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba di ujung, dan sekalian selamat jalan
dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap

Koleksi : teater_gress@yahoo.com