Proposal Karya Akhir Teater STKW

USULAN KARYA AKHIR

PERWUJUDAN NASKAH “ PINANGAN “
KARYA ANTON CHEKOV TERJEMAHAN SUYATNA ANIRUN
DALAM SEBUAH PEMENTASAN

Diajukan oleh :
MUHAMMAD ABDUH ABBAS
NIM : 2007.4.111.2678

Telah disetujui oleh Tim Pembimbing
Pada tanggal …………………………

Pembimbing Karya
Harwi Mardiyanto, S.Sn

Mengetahui
Ketua Jurusan Seni Teater
Juma’ali, S.Sn

_____________________________________________________________

KATA PENGANTAR

Diawali dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, karunia dan petunjuk-Nya. Dengan ini penyaji sangat membutuhkan dukungan dari berbagai pihak supaya mengikuti perjalanan proses karya teater ini sebagai Tugas Akhir untuk mendapatkan gelar sarjana S1 jurusan seni teater di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya, semoga dapat terlaksana dengan baik.

Proses kreatif ini membutuhkan sebuah bentuk kerjasama yang saling berkaitan dan membutuhkan pula kesadaran dan rasa tanggungjawab sebagai komitmen yang diputuskan dalam sebuah kerja kolektif yang kompak. Sehingga karya pementasan yang berjudul “Pinangan“ dapat terwujud atas dorongan dan bantuan serta kerjasama dari berbagai pihak.

Sehubungan dengan hal di atas, maka dengan segala kerendahan hati penyaji mengucapkan terima kasih yang tulus kepada ;
1. Bapak Juma’ali S.Sn, selaku Ketua Jurusan Teater, Sekolah Tinggi
Kesenian Wilwatikta Surabaya.
2. Bapak Harwi Mardiyanto, S.Sn, selaku Pembimbing Karya Teater.
3. Seluruh Civitas Akademika Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta
Surabaya.
4. Teman-teman anggota GRESS Surabaya yang menjadi Tim Artistik dan
Non Artistik dalam proses pementasan ini.
5. Segala pihak yang membantu terselenggaranya karya pementasan
teater ini.

Semoga segala bentuk bantuan baik secara materiil dan spiritual, kerjasama serta semangat memberikan jalinan yang berlanjut dalam karya ini hingga selesai.

Surabaya, 23 Maret 2008
Penyaji
Muhammad Abduh Abbas

_____________________________________________________________

DAFTAR ISI

Halaman Judul ………………………………………………………………………………………i
Halaman Persetujuan ……………………………………………………………………………ii
Kata Pengantar …………………………………………………………………………………..iii
Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………iv
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………..1
1. Latar Belakang Kekaryaan ……………………………………………………..1
2. Tujuan Kekaryaan ………………………………………………………………….1
3. Manfaat Kekaryaan ………………………………………………………………..2
4. Tinjauan Sumber ……………………………………………………………………3
BAB II SEKILAS TENTANG ANTON CHEKOV …………………………………4
1. Biografi Anton Chekov ……………………………………………………………4
2. Ciri – ciri karya Anton Chekov …………………………………………………6
3. Karya – karya Anton Chekov ………………………………………………….9
BAB III KONSEP PENYAJIAN ………………………………………………………..12
1. Alasan Pemilihan Naskah Pinangan …………………………………………12
2. Sinopsis Naskah Pinangan ……………………………………………………..13
3. Menafsir Naskah Pinangan …………………………………………………….13
3.1. Tema …………………………………………………………………………………13
3.2. Sasaran ……………………………………………………………………………..14
3.3. Karakterisasi ………………………………………………………………………15
3.4. Tujuan Utama Peran …………………………………………………………..16
3.5. Hubungan Antar Peran ………………………………………………………..21
4. Perwujudan Pementasan Naskah Pinangan ……………………………..22
4.1. Casting Pemeranan …………………………………………………………….22
4.2. Pembentukan Tim Artistik dan Non Artistik …………………………..22
4.3. Proses Kerja Produksi ………………………………………………………….24
4.4. Proses Penggarapan ……………………………………………………………28
BAB VI PENUTUP ……………………………………………………………………….29
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………………v
LAMPIRAN

_____________________________________________________________

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG KEKARYAAN
Kini dalam kehidupan manusia semakin kehilangan rasa persaudaraan yang luntur akan mempertahankan harga diri sebagai prinsip hidupnya. Makna persahabatan yang kian berarti terkadang lenyap seketika karena perebutan harta. Kondisi masyarakat sampai kini masih monomer-satukan harta yang dimiliki sebagai ukuran status keluarga.
Hal inilah penyaji merasa tergerak untuk memperlihatkan sekelompok masyarakat yang masih saling mempertahankan hak milik dan memamerkan kekayaan yang dimiliki sehingga terkadang membawa ketidak harmonisan sesama tetangga.

2. TUJUAN KEKARYAAN
2.1. Mengingat jalur minat utama yang ditempuh oleh penyaji selama perkuliahan di STKW adalah sebagai kelanjutan dari kelulusan D3 Jurusan Teater Institut Kesenian Jakarta, maka hasil akhir perkuliahan adalah dituntut untuk menciptakan karya teater dalam forum ujian karya akhir Program S1 Jurusan Seni Teater.
2.2. Jerih payah selama menuntut ilmu dalam perkuliahan di IKJ dan STKW serta aktif berkesenian di luar kampus ternyata membuahkan pengalaman untuk mewujudkan kekaryaan teater.
2.3. Sebagai persembahan baktiku kepada keluargaku, guruku, para seniman, dan orang-orang yang selalu memberi suluh dan semangat bagi kehidupan penyaji.
2.4. Sebagai wujud tanggung jawab sebagai insan seni terhadap perkembangan seni teater, melalui gelar karya teater ini semoga dapat memberikan dampak positif dalam kehidupan teater kampus.

3. MANFAAT KEKARYAAN
3.1. Bagi penyaji secara pribadi manfaat kekaryaan ini merupakan sarana untuk lebih giat dan produktif dalam berkesenian.
3.2. Menambah referensi kekaryaan bagi lembaga yang diwujudkan dalam bentuk media tulis dan audio visual.
3.3. Semoga nantinya karya ini akan menjadi bahan apresiasi bagi kalangan seniman teater, kritikus teater dan civitas akademika yang intens terhadap dunia kekaryaan.

4. TINJAUAN SUMBER
Mencoba mengangkat permasalahan kehidupan manusia yang terlalu mempertahankan prinsip sehingga lupa akan tujuan dalam hidupnya. Menurut Chekov hidup itu tidak ada jalan ceritanya. Setiap orang memang punya riwayat hidup, tetapi jarang ada orang yang didalam riwayat hidupnya menjumpai pertentangan yang besar dan lalu terjerat ke dalam jalan cerita yang berliku-liku.
Jadi, kalau tujuan realisme adalah untuk mengungkapkan kenyataan dalam hidup, maka sang pengarang tidak boleh terlalu “mengarang-ngarang” jalan cerita. Melainkan ia harus membuka mata dan pikiran baik-baik untuk mengamati satu segi kehidupan yang dia pilih dengan teliti. Kemudian menggambarkannya dengan jujur, apa adanya, di dalam karyanya.
Sikap diatas tercermin dalam drama-drama karya Chekov. Termasuk drama “Pinangan” yang akan penyaji pentaskan. Jalan ceritanya boleh dikatakan sangat sederhana yaitu ada seorang jejaka datang melamar pada keluarga Suwiryo dan lamarannya diterima. Dengan realisme Chekov kita dapat mengamati satu segi kehidupan dan apa yang diungkapkannya bukanlah “jalan cerita” tetapi “kenyataan kejiwaan”. Oleh karena itu tanpa melakukan analisa dengan ilmu jiwa, tidak mungkin orang bisa memainkan realisme Chekov.

_____________________________________________________________

BAB II
SEKILAS TENTANG ANTON CHEKOV

1. Biografi Anton Chekov
Anton Pavlovich Chekhov (29 Januari 1860 – 15 Juli 1904) adalah seorang penulis besar Rusia yang terkenal terutama karena cerpen-cerpen dan dramanya. Banyak dari cerpennya dianggap sebagai apotheosis dari bentuk, sementara dramanya, meskipun hanya sedikit – dan hanya empat yang dianggap besar – mempunyai dampak yang besar dalam literatur dan pertunjukan drama.
Chekhov lebih dikenal di Rusia modern karena ratusan cerpennya, dan banyak di antaranya dianggap merupakan adikarya dalam bentuk karangan tersebut. Namun demikian drama-dramanya juga memberikan pengaruh yang mendalam terhadap drama abad ke-20. Dari Chekhov, banyak pengarang drama kontemporer belajar bagaimana memanfaatkan suasana hati, hal-hal yang kelihatannya tidak berarti dan inaksi (berdiam diri) untuk menyoroti psikologi batin para tokohnya. Keempat drama utama Chekhov – Burung Camar, Paman Vanya, Tiga Saudari, dan Kebun Ceri – seringkali ditampilkan kembali dalam pementasan-pementasan modern.
Anton Chekhov dilahirkan di Taganrog, sebuah pelabuhan kecil di desa kecil di Laut Azov, di Rusia selatan pada 29 Januari 1860. Ayahnya seorang pedagang kebutuhan sehari-hari, yang mempunyai kedudukan resmi sebagai Pedagang dari Gilda Ketiga – dan kakeknya seorang petani dalam sistem feodal yang berhasil membeli kebebasannya. Anton adalah anak ketiga dari enam bersaudara.
Katedral Kenaikan di Taganrog, Rusia, tempat Anton Chekhov dibaptiskan pada 10 Februari 1860.
Anton belajar di sekolah untuk anak-anak Yunani di Taganrog (1866-1868), dan pada usia delapan tahun ia dikirim ke Gimnasium untuk anak-anak lelaki di Taganrog. Anton adalah seorang murid yang rata-rata. Ia agak pemalu dan tidak suka menonjolkan diri, namun ia terkenal karena sering memberikan komentar-komentar satir, karena sering berulah, dan membuat nama-nama julukan yang lucu-lucu untuk guru-gurunya. Ia senang tampil dalam teater-teater amatir dan sering pula menghadiri pertunjukan-pertunjukan di teater desa. Di masa remajanya ia mencoba mengarang berbagai “anekdot” singkat, cerita-cerita lucu ataupun yang menggoda, meskipun ketika itu ia juga dikenal pernah menulis drama panjang yang serius, “Anak piatu”, yang kemudian dihancurkannya.
Anton Chekhov jatuh cinta dengan teater dan sastra sejak masa kanak-kanak. Pertunjukan pertama yang ia tonton adalah opereta Elena si Cantik karya Jacques Offenbach di panggung Teater Kota Taganrog pada 4 Oktober 1873. Anton saat itu seorang murid Gimnasium yang berusia 13 tahun, dan sejak saat itu ia menjadi pencinta besar teater. Ia menghabiskan praktis semua tabungannya untuk teater. Kursi favoritnya di teater itu adalah barisan belakang karena murah (40 kopek perak), dan karena murid-murid Gimnasium membutuhkan izin khusus untuk masuk ke teater. Seringkali izin tidak diberikan dan kebanyakan hanya untuk hari-hari biasa. Kadang-kadang Chekhov dan teman-temannya sesama murid sekolah menyamar dan bahkan mengenakan make up, kacamata atau janggut palsu, untuk menipu staf sekolah biasa yang memeriksa kalau-kalau ada murid yang menonton tanpa izin.
Ibu si pengarang, Yevgeniya, adalah seorang juru cerita yang hebat, dan Chekhov diduga memperoleh bakatnya untuk bercerita dan belajar membaca dan menulis daripadanya. Ayahnya, Pavel Yegorovich Chekhov, seorang yang sangat berdisiplin dan fanatik, menuntut semua anaknya mengabdikan diri kepada Gereja Ortodoks Timur dan bisnis keluarganya. Pada 1875, ketika terancam bangkrut, ia terpaksa melarikan diri dari para kreditur ke Moskwa, tempat kedua anak sulungnya belajar di universitas. Selama beberapa tahun berikutnya keluarganya hidup dalam kemiskinan.
Anton tetap tinggal di Taganrog selama tiga tahun berikutnya untuk menyelesaikan sekolahnya. Ia berusaha mencukupi kebutuhannya dengan memberikan les privat, menjual barang-barang rumah tangga, dan belakangan, bekerja di gudang pakaian. Pada 1879, Chekhov menyelesaikan sekolahnya di gimnasium dan bergabung dengan keluarganya di Moskwa, setelah ia diteima di sekolah kedokteran di Universitas Negara Moskwa.

2. Ciri – ciri karya Anton Chekov
Untuk mendukung keluarganya, Chekhov mulai mengarang cerita-cerita pendek, sketsa humor dan vignet dari kehidupan Rusia masa itu, banyak di antaranya dengan menggunakan pseudonim seperti misalnya Antosha Chekhonte, Laki-laki tanpa perasaan dan lain-lain. Karyanya yang pertama diterbitkan muncul di mingguan St Petersburg Strekoza (Стрекоза, “Capung”) pada Maret, 1880. Tidak diketahui berapa banyak cerita yang ditulis Chekhov selama periode ini, namun ia dengan cepat menjadi penulis yang matang. Ia segera mendapatkan reputasi sebagai penulis satir kehidupan jalanan Rusia.
Nicolas Leykin, salah seorang penerbit terkemuka pada masa itu dan pemilik Oskolki (“Fragmen-fragmen”), yang kepadanya Chekhov mulai memasukkan karya-karyanya yang lebih indah, mengenali bakat si penulis namun membatasi prosa Chekhov, hanya pada sketsa-sketsa sepanjang satu setengah halaman. Sebagian percaya bahwa batasan inilah yang mengembangkan ciri khas gaya penulisan Chekhov yang ringkas padat.
Chekhov lulus sebagai dokter pada 1884, namun tetap menulis untuk terbitan-terbitan mingguan dan pada 1885 mulai mengirimkan tulisannya ke Peterburgskaya Gazeta (“Gazeta Petersburg”) karya-karya yang lebih panjang dan sifatnya lebih serius. Leykin menolak karya-karya ini. Pada Desember 1885 ia diundang untuk menulis untuk salah satu koran yang paling dihormati di St Petersburg, Novoye vremya (“Zaman Baru”), yang dimiliki dan disunting oleh milyuner Alexey Suvorin. Pada 1886 Chekhov sudah menjadi penulis terkenal, namun ia masih menganggap mengarang sebagai hobi.
Dmitrii Grigorovich, salah seorang dari banyak penulis yang tertarik pada cerita-cerita Chekhov, membujuknya agar ia lebih serius dengan bakatnya. Dalam suatu tahun yang sangat produktif, Chekhov menulis lebih dari seratus cerita pendek dan menerbitkan kumpulannya yang pertama, “Aneka Cerita” {Pestrye rasskazy) dengan dukungan dari Suvorin, dan pada tahun berikutnya kumpulan cerita pendeknya “Di Kala Senja” (V sumerkakh) memenangkannya Penghargaan Pushkin yang sangat diincar. Ini menandai awal kariernya yang sangat produktif sebagai pengarang.
Pada akhir 1880-an, Chekhov tertulari tuberkulosis dari pasiennya. Pada 1887, dipaksa oleh beban kerja yang berlebihan dan kesehatannya yang memburuk, Chekhov melakukan perjlanaan ke Ukraina timur. Sekembalinya, ia mulai menulis cerita pendeknya yang panjang, Steppa (Step), yang akhirnya diterbitkan dalam sebuah jurnal sastra yang serius, Severny vestnik (“Utusan Utara”). Cerita pendek ini menandai puncaknya yang baru sebagai pengarang, karena karyanya diterbitkan dalam sebuah terbitan terkemuka pada masa itu dan menunjukkan kematangan yang membedakan fiksinya yang belakangan.
Dengan Maxim Gorky di Yalta pada 1900.
Produksi pertama “Burung Camar”, yang ditampilkan pertama kali pada 17 Oktober 1896, di St. Petersburg, merupakan bencana bagi Chekhov. Pada malam pembukaannya, penonton mengharapkan sebuah komedi, dan kelompok sandiwara itu hanya punya sembilan hari untuk berlatih. Ejekan dan cemooh menyambut monolog Nina pada akhir Babak I. Begitu kecewanya Chekhov sehingga ia menulis, “Saya tidak akan pernah melupakan kejadian semalam… saya tidak akan pernah menampilkan sandiwara itu di Moskwa, tidak akan pernah. Tak pernah lagi saya menulis atau menampilkannya lagi.” (Secara kebetulan, para penonton pada malam ke-2 dan ke-3 lebih menghargainya, namun Chekhov tidak memedulikannya.)
Setelah produksi kedua Burung Camar (dan suksesnya yang pertama) oleh Teater Seni Moskwa, pada 1898, ia menulis tiga buah drama lagi untuk kelompok yang sama: Paman Vanya, Tiga Saudari dan Kebun Ceri. Pada 1901 ia menikah dengan Olga Leonardovna Knipper (1870-1959), seorang aktris yang bermain dalam drama-dramanya.

3. Karya – karya Anton Chekov

3.1. Drama

That Worthless Fellow Platonov (Platonov yang Tidak Berguna) (l.k.1881) – satu babak
On the Harmful Effects of Tobacco (Bahaya Racun Tembakau) (1886, 1902)
Ivanov (1887) – empat babak
The Bear (1888) – (Orang Kasar) komedi satu babak
The Proposal atau A Marriage Proposal (Pinangan) (l.k.1888-1889) – satu babak
The Wedding (1889) (Pesta Perkawinan) – satu babak
The Wood Demon (Hantu Kayu) (1889) – komedi empat babak
The Seagull (Burung Camar) (1896)
Uncle Vanya (Paman Vanya) (1899-1900) – berdasarkan The Wood Demon
Three Sisters (Tiga Saudari) (1901)
The Cherry Orchard (Kebun Ceri) (1904)

3.2. Non Fiksi

Perjalanan ke Sakhalin (1895), termasuk:
Pulau Saghalien [atau Sakhalin] (1891-1895)
Melintasi Siberia
Surat-surat

3.3. Cerita Pendek

Banyak dari cerita-cerita yang lebih awal ditulis dengan nama samaran “Antosha Chekhonte”.
“Intrigues” (1879-1884) – sembilan cerita
“Late-Blooming Flowers” (1882)
“The Death of a Government Clerk” (1883) (difilmkan di Indonesia oleh Syuman Djaya dengan judul “Si Mamad”)
“The Swedish Match” (1883)
“Lights” (1883-1888)
“Oysters” (1884)
“Perpetuum Mobile” (1884)
A Living Chronology (1885)
“Motley Stories” (“Pëstrye Rasskazy”) (1886)
“Excellent People” (1886)
“Misery” (1886)
“The Princess” (1886)
“The Scholmaster” (1886)
“A Work of Art” (1886)
“Hydrophobia” (1886-1901)
“At Home” (1887)
“The Beggar” (1887)
“The Doctor” (1887)
“Enemies” (1887)
“The Examining Magistrate” (1887)
“Happiness” (1887)
“The Kiss” (1887)
“On Easter Eve” (1887)
“Typhus” (1887)
“Volodya” (1887)
“The Steppe” (1888) – memperoleh Penghargaan Pushkin
“An Attack of Nerves” (1888)
“An Awkward Business” (1888)
“The Beauties” (1888)
“The Swan Song” (1888)
“Sleepy” (1888)
“The Name-Day Party” (1888)
“A Boring Story” (1889)
“Gusev” (1890)
“The Horse Stealers” (1890)
“The Duel” (1891)
“Peasant Wives” (1891)
“Ward No 6″ (1892)
“In Exile” (1892)
“The Grasshopper” (1892)
“Neighbours” (1892)
“Terror” (1892)
“My Wife” (1892)
“The Butterfly” (1892)
“The Two Volodyas” (1893)
“An Anonymous Story” (1893)
“The Black Monk” (1894)
“The Head Gardener’s Story” (1894)
“Rothschild’s Fiddle” (1894)
“The Student” (1894)
“The Teacher of Literature” (1894)
“A Woman’s Kingdom” (1894)
“Three Years” (1895)
“Ariadne” (1895)
“Murder” (1895)
“The House with an Attic” (1896)
“My Life” (1896)
“Peasants” (1897)
“In the Cart” (1897)
“The Man in a Case”, “Gooseberries”, “About Love” – the ‘Little Trilogy’ (1898)
“Ionych” (1898)
“A Doctor’s Visit” (1898)
“The New Villa” (1898)
“On Official Business” (1898)
“The Darling” (1899)
“The Lady with the Dog” (1899)
“At Christmas” (1899)
“In the Ravine” (1900)
“The Bishop” (1902)
“The Bet” (1889)
“Betrothed” atau “A Marriageable Girl” (1903)
“Agafya”
“The Pipe”
“The Lottery Ticket”
“Verochka”

_____________________________________________________________

BAB III
KONSEP PENYAJIAN

1. Alasan Pemilihan Naskah Pinangan
Sudah puluhan naskah barat dengan terjemahan Indonesia yang pernah penyaji mainkan ketika masih di bangku kuliah. Terutama pernah memainkan tokoh dalam naskah Hantu-Hantu karya Henrik Ibsen dengan terjemahan Harijadi S. Hartowardjojo untuk menempuh Ujian TSD sebagai persyaratan kelulusan D-3 program studi pemeranan di IKJ tahun 1995. Kini penyaji memilih naskah Pinangan karya Anton Chekov terjemahan Suyatna Anirun untuk dipentaskan dalam Tugas Akhir sebagai persyaratan kelulusan S-1 pada penyutradaraan.
Harus penyaji akui, ketika hendak memulai proses lakon ini, penyaji agak kesulitan untuk menemukan “ titik awal “, karena lakon ini telah demikian popular. Begitu banyak kelompok teater yang membawakan lakon Chekov ini dengan bentuk, style dan warna yang aneka rupa, sehingga kelihatan tidak ada celah yang tersisa untuk dijelajahi.
Akhirnya penyaji putuskan untuk mulai dari kemampuan diri sendiri. Apa saja yang dimiliki, penyaji coba untuk jelajahi sedemikian rupa hingga kadang muncul ide yang tak disangka sebelumnya. Penyaji sadar bahwa proses yang melewati waktu juga membuka pintu-pintu kreatifitas. Mengadaptasi semangat budaya lokal Jawa Timur sebagai sajian bentuk pementasan drama Pinangan.

2. Sinopsis Naskah Pinangan
Agus Budiono, seorang perjaka tua yang berpenyakitan, datang mengunjungi Raden Suwiryo Djajadiningrat dengan maksud untuk melamar anaknya yang bernama Rahayu Wulandari, tetapi setelah Agus dan Rahayu bertemu, keduanya malah bertengkar memperebutkan siapa yang paling berhak atas lapangan Sarigading.
Rahayu, yang baru mengetahui niat Agus, menyuruh ayahnya memanggil Agus yang telah mereka usir. Keduanya pun kembali bertemu, tetapi mereka malah bertengkar lagi, tentang anjing siapa yang terbaik diantara anjing mereka berdua. Dengan tak ada habisnya mereka saling mempertahankan prinsip, hingga akhirnya R. Suwiryo Djajadiningrat tetap merestui pinangan mereka sebagai calon suami istri.

3. Menafsir Naskah Pinangan
3.1. Tema : Mempertahankan prinsip / Hak milik.
Prinsip dalam kehidupan manusia banyak menguat dalam diri manusia. Akan tetapi prinsip dapat lunak jika kita saling memahami demi kepentingan bersama. Sebaliknya mempertahankan prinsip atau hak milik semata-mata ego tanpa kebenaran bersama maka bisa berakibat fatal.
Seperti halnya Agus yang mempertahankan prinsipnya dalam pemilikan lapangan Sarigading. Sedangkan prinsip Rahayu dalam perebutan tanah tsb melunak ketika harapannya tercapai saat menerima lamaran dari Agus. Begitu juga terhadap Raden Suwiryo yang tidak kaku dalam mempertahankan prinsip.

3.2. Sasaran
Menggambarkan ketidak harmonisan tetangga ketika saling memertahankan prinsip. Lewat Pinangan, Chekov ingin bicara soal harga diri dan harta. Bahwa masih banyak kita jumpai orang-orang kaya yang lebih mementingkan kekayaan daripada persahabatan Aku adalah aku, kau adalah kau.
Keindahan lakon Chekov tidak terletak dalam dialog-dialognya, tapi dalam arti yang tersirat di balik dialog-dialog itu. Dalam keheningan, dalam bagaimana para pemain nampak (komposisi fisik), dalam cara bagaimana mereka mengungkapkan emosi-emosi mereka. Segala sesuatu dalam drama Chekov haruslah hidup, tata peralatan, tata suara, dekor, imaji-imaji yang diciptakan para pelaku dan dramanya itu sendiri. Disini dibutuhkan intuisi yang kreatif dan perasaan artistik.
Chekov sendiri menggarisbawahi akan pentingnya intuisi dan perasaan. Bobot utama darama-drama Chekov adalah “mood dan keadaan hati” si tokoh dan suasana, seperti juga dalam cerpen-cerpennya. Dialog-dialognya seperti sederhana, tapi sesungguhnya merupakan mutiara-mutiara isi hati. Chekov juga menjauhkan diri dari kalimat-kalimat yang panjang dan omong kosong yang merupakan keributan semata.
Jika Edgar Allan Poe terkenal genre detektifnya, Anton Chekov terkenal dengan karena lukisan masyarakatnya.

3.3. Karakterisasi
1. AGUS BUDIONO
Bujang lapuk berumur 30 tahun, anak tunggal dari Raden Cokrosasmito Hadiwidjojo yang manja, keturunan orang kaya, berpenyakit jantung, lemah dan sakit-sakitan.

2. RAHAYU WALANDARI
Anak gadis semata wayang dari Raden Suwiryo Djajadiningrat, tamatan SKP, berusia sekitar 25 tahun, manja dan agak keras kepala, rajin dan pandai.

3. RADEN SUWIRYO DJAJADININGRAT
Berusia sekitar 60 tahun, kolot, pelit dan agak egois, mudah lelah dan marah.

3.4. Tujuan Utama Peran

A. Tujuan utama watak dalam seluruh naskah
1. AGUS BUDIONO :
Meminang putri Raden Suwiryo yang bernama Rahayu Wulandari.
2. RAHAYU WULANDARI :
Menerima lamaran Agus Budiono
3. RADEN SUWIRYO :
Menyetujui keinginan Agus Budiono yang bermaksud melamar Rahayu .

B. Tujuan utama watak dalam setiap adegan
Adegan I :
1. Agus; berkunjung dengan alasan ingin mengungkapkan isi hatinya
untuk melamar putri Suwiryo. Hal ini terlihat pada dialog sbb ;
AGUS :
Segera, segera, soalnya adalah saya datang untuk melamar putri Bapak (berbalik badan)

SUWIRYO :
(dengan girang) Anakku Agus, Agus Budiono, ucapkanlah itu sekali lagi, aku hampir tidak percaya.

AGUS :
Saya merasa terhormat untuk meminang…………….

2. Raden Suwiryo; Mencurigai kedatangan Agus dengan niat pinjam uang
dan menggembirai keinginan Agus yang bermaksud melamar Rahayu.
Hal ini terlihat pada dialog sbb ;
AGUS :
Begini soalnya (memegang tangannya sendiri), saya mengunjungi Pak Suwiryo yang baik, karena ada satu permintaan. Sudah lebih dari satu kali saya merasa sangat beruntung mendapat pertolongan dari bapak dan selalu boleh dikatakan……………..tapi saya, saya begitu gugup. Bolehkah saya minta segelas air Pak Suwiryo ? ………….segelas air !

SUWIRYO :
(kesamping mengambil minuman) Paling mau utang duwit lagi. Tapi tak mungkin kuberi. (kpd Agus) Ada apa sebenarnya Gus ?

AGUS :
Terima kasih Pak Suwiryo……..maaf………Pak Suwiryo Djajaningrat yang baik, saya begitu gugup, pendeknya tak seorangpun bisa menolong saya, kecuali bapak. Meskipun saya tak patut menerimanya dan tak berhak pula mendapat pertolongan dari bapak.

SUWIRYO :
Ah, Agus jangan bertele-tele, langsung saja, ada apa ?

…………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………..

SUWIRYO :
Anakku sayang, aku sangat gembira, wel geduwel………(memeluk) Aku sudah mengharapkannya lama sekali, memang itulah keinginanku, aku selalu mencintaimu Agus, seperti kau ini anakku sendiri. Moga-moga Tuhan memberkahi kalian, memberikan kalian cinta, nasib baik, wel geduwel……..aku selalu mengharapkannya……………mengapa aku berdiri disini seperti tiang ? Aku membeku karena girang, membeku seratus persen seluruh hatiku. Sebaiknya aku panggil Rahayu……………. wel geduwel bleh………..

AGUS :
Pak Suwiryo Djajaningrat yang baik, bagaimana pak ? Bolehkah aku mengharapkan dia menerima lamaranku ?

SUWIRYO :
Bagi seorang yang gantengnya seperti kau, dia akan menerima lamaranmu. Aku yakin sekali, ia sudah rindu seperti kucing, wel geduwel bleh………..sebentar…………….(keluar)

Adegan II
1. Agus; menceritakan tentang kehidupan dirinya yang ingin cepat kawin.
Hal ini terlihat dalam dialog sbb. ;
AGUS :
Aku kedinginan, gemetar seperti hendak menempuh ujian penghabisan, tapi baiknya adalah memutuskan sesuatu sekarang juga, kalau orang berpikir terlalu lama, ragu-ragu membicarakannya, menunggu kekasih yang cinta sehidup semati, akhirnya malah tidak kawin-kawin……… brrr……aku kedinginan. Rahayu Wulandari gadis yang baik, ia pandai memimpin rumah tangga, ia tidak jelek, terpelajar, tamatan SKP, apalagi yang aku inginkan ? Tapi aku sudah pening, aku gugup (minum). Ohh… aku harus kawin. Pertama, aku sudah berumur 30 tahun, boleh dikatakan umur yang kritis juga. Aku butuh hidup teratur dan tidak terlalu tegang, karena aku punya penyakit jantung, selalu berdebar-debar, aku selalu terburu-buru, bibirku gemetar dan mataku yang kanan selalu berkerinyut-kerinyut. Kalau aku baru naik ranjang dan mulai terbaring, ooohhh……..pinggang kiriku sakit. Aku bangun, meloncat seperti orang kalap ! Aku bejalan sedikit baru kemudian aku pergi tidur lagi, tapi kalau aku hampir ngantuk datang lagi penyakit itu dan ini berulang sampai dua puluh kali.

Adegan III
1. Agus ; ingin mengungkapkan isi hatinya yang berniat melamar Rahayu.
Hal ini terlihat pada dialog sbb. ;
AGUS :
(gugup) Begini Rahayu Wulandari Djajadiningrat yang baik, sebabnya ialah, aku sudah memastikan bahwa ayahmu ingin agar kau mendengar langsung dari aku. Tentunya kau tak mengharapkan ini, dan mungkin kau akan marah. Tapi……….oh………..dingin sekali (minum).

2. Rahayu; menggembirai kedatangan Agus yang sudah lama tidak mengunjunginya. Hal ini terlihat pada dialog sbb. ;
RAHAYU :
Ooo kamu, mengapa ayah mengatakan ada pembeli mau mengambil barangnya ? Apa kabar Agus Budiono ?

AGUS :
Apa kabar Rahayu Wulandari yang baik ?

RAHAYU :
Maafkan kalau bajuku jelek, aku sedang mengiris buncis di dapur. Mengapa sudah lama tidak datang ? Duduklah (mereka duduk). Sudah makan ? Mau rokok? …………ini koreknya. Hari terang sekali, sehingga petani-petani tak dapat kerja. Sudah berapa jauh hasil panenmu ? Sayang aku terlalu serakah memotong tanaman, sekarang aku menyesal. Aku takut busuk, aku seharusnya menunggu. (memandang sebentar baru menyadari) Eeh, apa ini ? Pake baju begini…….baru ? Mau pergi kemana Agus ? Ouu…….kau sangat cakep sekarang ! Ada apa ?

3. Raden Suwiryo; menegaskan hak / sikapnya sebagai pemilik Lapangan Sarigading. Hal ini terlihat pada dialog sbb. ;
SUWIRYO :
Ada apa berteriak-teriak ? Mengapa ?

RAHAYU :
Ayah, coba terangkan sama orang ini, siapa yang memiliki lapangan Sarigading, dia atau kita ?

SUWIRYO :
Agus, lapangan Sarigading adalah milik kami.

Adegan IV
1. Rahayu; memperbaiki suasana keributan. Hal ini terlihat pada dialog sbb. ;
RAHAYU :
(dengan manisnya) Kami minta maaf cak Agus, kami terlalu terburu-buru…… Cak Agus Budiono Cokrosasmito, sekarang aku ingat, lapangan Sarigading adalah milikmu sungguh-sungguh……

AGUS :
Oh…. Jantungku berdebar-debar hebat. Ya, lapangan Sarigading adalah……. milikku. Aaaaaa…….. kedua mataku berdenyut-denyut.

RAHAYU :
Ya, milikmu, betul milikmu. Duduklah (mereka duduk). Kami tadi salah.

2. Agus; menceritakan tentang kehebatan anjingnya. Hal ini terlihat pada
dialog sbb. ;
AGUS :
(mulai hidup) Berburu rusa ? eee……. Aku berharap akan berburu ayam liar setelah panen selesai, ning Rahayu Wulandari yang baik. Tapi sudahkah kau dengar betapa jeleknya nasib si Belang anjingku ? Kau kenal dia ? Kakinya lumpuh.

RAHAYU :
Kasihan, bagaimana terjadinya ?

AGUS :
Entahlah, mungkin otot kakinya terkilir atau mungkin digigit anjing lain. Tapi anjingku adalah yang terbaik, lagipula belum kusebutkan berapa harga yang kubayar untuk dia. Tahukah kau bahwa telah kubayar kepada Mat Soleh sebanyak 2 juta rupiah untuk si Belang.

RAHAYU :
Terlalu mahal untuk seekor anjing cak Agus.

AGUS :
Kukira jumlah itu murah sekali Rahayu, ia anjing yang lucu dan cerdik pula.

3. Raden Suwiryo; mengesali suasana permulaan sepasang calon suami istri. Hal ini terlihat pada dialog sbb. ;
SUWIRYO :
Sebaiknya kau segera kawin, wel geduwel bleh, persetan kalian. Dia menerima kau. Aku berikan anakku.

AGUS :
Ahh siapa ? (bangun) Siapa ?

SUWIRYO :
Ia menerimamu dan persetan kalian.

RAHAYU :
(hidup) Yaaa……. Yaaaa…… kuterima kau.

SUWIRYO :
Jabatlah nak, jabatlah tangannya …wel geduwel bleh….

AGUS :
Haa, apa ? Aku gembira, maaf ada apa sebenarnya ? Oohh ya, aku mengerti. Jantungku berdebar-debar, kepalaku pusing. Aku senang Rahayu yang manis.

RAHAYU :
Aku……. Aku juga senang Agus Budiono.

SUWIRYO :
Nah………… selesailah sudah satu persoalan di dalam kepalaku.

3.5. Hubungan Antar Peran
1. Agus Budiono dengan Rahayu Wulandari
Teman sejak kecil. Keluarga Agus dengan keluarga Rahayu adalah bertetangga dekat, keduanya sejak kecil selalu akrab bermain bersama, sesudah besar , diam-diam Agus mencintai Rahayu
2. Agus Budiono dengan Raden Suwiryo Djajadiningrat
Keluarga Agus adalah tetangga dekat keluarga R. Suwiryo yang selalu rukun, Agus mendekati R. Suwiryo agar ia dapat diijinkan meminang Rahayu.
3. Rahayu Wulandari dengan Raden Suwiryo Djajadiningrat
Anak dan bapak ini sangat dekat sekali, sebab Rahayu adalah anak satu- satunya yang paling di sayang, apalagi ibunya Rahayu sudah meninggal hingga R. Suwiryo sangat menjaga dan memanjakan Rahayu putrinya.

4. Perwujudan Pementasan naskah Pinangan

_____________________________________________________________

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, A. Kasim. (1976). Hasil Lokakarya Penyusunan Tingkat- tingkat Kemampuan Seni di Jogjakarta dan Bandung. Jakarta. Direktorat Pembinaan Kesenian . Direktorat Jendral Kebudayaan.

Asmara dr, Adhy. (1983). Cara Menganalisa Drama. Sebuah Pengantar Pada Apresiasi. Jakarta. CV. Nur Cahaya.

Harymawan, RMA. (1988). Dramaturgi. Bandung. CV. Rosda.

Indonesia Kecil, Forum. (1989). Beberapa Pemikiran Tentang Pementasan Naskah Barat Oleh Teater Indonesia. Jakarta. Goethe-Institut Jakarta.

KM, Saini. (1981). Beberapa Gagasan Teater. Jogjakarta. CV. Nur Cahaya

Pmd, Pramana. ( tt ). Pokok-pokok Masalah Penyutradaraan Teater. Jakarta. Sub. Direktorat Seni Teater, Film, dan Sastra. Direktorat Pembinaan Kesenian.

Riantiarno, N. (1985). Tentang Sutradara dan Penyutradaraan. Cipayung. Tanpa Penerbit.

SitorusMA., Eka D. (1996). Sekilas Analisa Kritis. Jakarta. Tanpa Penerbit.

Sumarjo, Jakob. (1992). Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia. Bandung. PT. Citra Aditya Bakti.

Soekito, Wiratmo. (1992). Henrik Ibsen sampai Antonin Artaut. Diktat Apresiasi Drama. Jakarta. Tanpa penerbit.

Stanislavsky. (1979). Persiapan Seorang Aktor. Terjemahan Asrul sani. Jakarta. PT. Pustaka Jaya.

Toekio M, drs. Soegeng (1990). Pengetahuan Tata Ruang Pentas. Surakarta. PT. Tri Tunggal Tata Fajar.

_____________________________________________________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: